Selasa, 28 September 2010


Memahami Kematian dan Memaknai Kehidupan

Salah satu pertanyaan terbesar dalam hidup manusia adalah “kemana manusia setelah kematian”? Kematian menjadi sebuah misteri yang selalu dipertanyakan oleh seluruh umat manusia. Akan tetapi, disisi lain kematian merupakan sesuatu yang selalu dihindari dan selalu senantiasa memberikan gambaran tentang satu peristiwa yang menakutkan bagi sebagian orang.

Kematian, baik dalam situasi normal maupun tidak normal, tidak pernah gagal untuk menunjukkan taringnya yang bengis dan siap merobek jaringan kehidupan manusia dengan sewenang-wenang. Kematian benar-benar merampas segala nilai kehidupan yang telah ditata dengan rapi, serta memporak-porandakan semua rencana hidup yang disusun oleh manusia menjadi suatu bangunan yang megah dan indah. Manusia selalu merasa datangnya kematian itu terlalu cepat. Kesempatan untuk menyelesaikan segala rencana yang ada dirampok oleh kematian yang tidak kenal kompromi. Belum puas rasanya mengukir kehidupan ini. Belum sempat rasanya menikmati kehidupan dengan orang-orang yang kita cintai. Kematian segera datang menjemput, tidak pernah sabar menunggu barang semenit atau sedetik pun.

Kematian sering identik dengan tragedi yang membawa banyak kesedihan bagi yang ditinggalkan. Tentu saja kesedihan akan terasa semakin mendalam bila kematian itu menimpa orang-orang terdekat kita, yang kita cintai dan kita butuhkan. Ketika itu yang terjadi, banyak di antara manusia yang tidak sanggup menerima proses kematian itu sebagai konsekuensi logis dari kehidupan. Kematian memunculkan jarak yang tak terukur dan tak terbatas antara yang masih hidup dengan yang telah mati. Meskipun demikian, pada akhirnya semua manusia harus dengan rela menerima datangnya kematian sebagai suatu ketentuan “nasib” yang tak terelakkan.

Fenomena kematian bukanlah hal yang asing di tengah eksistensi manusia. Kendati demikian, hal itu tidak memberikan jawaban apa pun atas pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam diri manusia ketika kematian itu disaksikannya. Sehingga meskipun fenomena kematian itu bukan hal yang asing bagi manusia, namun tetap memunculkan kecemasan dan ketakutan dalam dirinya. Pertanyaan tentang kematian merupakan pertanyaan yang muncul dari kesangsian, kesangsian muncul dari ketidakpastian, ketidakpastian menimbulkan kegelisahan dan pada akhirnya kegelisahan akan membawa manusia kepada kecemasan dan ketakutan

Cerita tentang kematian juga mendapat perhatian dari sebagian besar orang. Film tentang kiamat 2012 yang dirilis tahun 2009 mendapat tanggapan yang luar biasa dan menjadi perhatian sebagian besar umat manusia. Film itu menjadi pusat perhatian sebagian besar umat manusia bukan karena sekadar karena spektakuler dan menggunakan tehknologi canggih, akan tetapi film itu memberi pesan akan datangnya kematian yang akan terjadi sebentar lagi yaitu pada tahun 2012. Film yang mengambarkan peristiwa kiamat yang akan terjadi pada tahun 2012 tepatnya tanggal 22 bulan 12 tahun 2012 didasarkan pada ramalan suku bangsa Maya dari Mexico yang mengatakan bahwa akan ada planet Nibiru yang akan menghancurkan Planet Bumi beserta isinya. Ramalan tersebut menyebabkan ketakutan bagi sebagain orang di seluruh belahan dunia sampai saat ini. 

Kematian telah menjadi bahan diskus sejak berabad-abad yang lalu, Plato mengartikan kematian sebagai pemisahan bagian rohaniah, yaitu jiwa, dari bagian fisik, yaitu badan. Setelah dipisahkan dari tubuh, jiwa dapat bertemu dan bercakap-cakap dengan arwah orang lain yang telah meninggal, dan dibimbing oleh arwah pelindung melalui peralihan dari kehidupan fisik ke dunia selanjutnya. Dia menyebutkan bagaimana beberapa orang mengharapkan dijemput oleh sebuah perahu pada waktu kematian mereka, yang akan membawa mereka mengarungi lautan menuju “pantai seberang”. Lebih lanjut Plato menegaskan bahwa jiwa yang telah dipisahkan dari tubuh pada waktu kematian dapat berpikir dan mempertimbangkan segala sesuatunya dengan lebih jelas dari sebelumnya. Segera setelah kematian kata Plato, jiwa menghadapi “pengadilan” tempat suatu “makhluk” Yang Agung memperlihatkan di hadapannya semua yang telah dilakukannya, apakah itu baik atau buruk, dan memaksa jiwa menghadapinya 
Dengan kata lain, tatkala jiwa sudah sampai kepada alam yang menjadi asal-usulnya, maka kepadanya akan diperlihatkan segala yang telah dia perbuat pada saat berada di dunia materi. Pada saat itu jiwa akan melihat segala yang terhalang baginya—disebabkan oleh terlingkupi jasad di dunia. Jiwa akan sadar terhadap baik dan buruk perilaku yang telah diperbuatnya di dunia karena pengaruh jasad. (Moody, 2001 : 145-147).
 
Sama dengan pendapat plato, agama – agama di dunia mengajarkan bahwa kematian adalah proses seseorang meninggalkan dunia fana ini menuju kepada kehidupan yang kekal atau baka dimana seseorang harus mempertanggung-jawabkan semua yang dilakukan didunia kepada Zat Yang Maha Tinggi yaitu Tuhan. Sang Buddha pernah mengatakan bahwa segala sesuatu yang dilahirkan, yang muncul, yang terbentuk, akan lenyap kembali? Ini merupakan sifat dari semua bentuk yang bersyarat, yakni muncul dan akan lenyap kembali. Dengan menyadari bahwa semua itu akan lenyap kembali, maka muncullah kedamaian dan kemuliaan. 
 
Agama Islam juga mengajarkan hal yang senada dan mengatakan bahwa kematian merupakan sesuatu yang perlu ditakuti karena kematian merupakan jalan kembali kepada Tuhan yang menciptakan manusia. Kematian adalah proses kembali kesisi Allah sehingga orang Islam selalu mengatakan orang yang meninggal dengan kalimat “ berpulang ke Rahmattulah” dan mengucapkan ‘ Innalillahi wainna Ilaihi Raji’un” yang artinya adalah, sesungguhnya kita ini milik Allah dan kepada-Nyalah kita kembali.
 
Agama Kristen juga mengajarkan hal yang sama, seperti yang dikatakan seorang teolog Kristen yaitu Profesor John Hick yang cukup dikenal dengan keyakinannya tentang adanya hidup setelah mati.Kematian menurut pandangan Hick adalah bagian dari proses perkembangan hidup manusia. Kematian bukan akhir kehidupan manusia. Justru dengan kematian, manusia menuju keabadian (immortality) Hidup merupakan perjalanan menuju kesempurnaan. Manusia takkan mencapi kesempurnaan di dunia, karena pasti akan mati. Kesempurnaan didapat manusia setelah kematiannya. Dalam arti, manusia akan mengalami kehidupan yang lain setelah kematiannya di dunia. Hidup di dunia bagi Hick merupakan ajang untuk mematangkan diri. Ia menganjurkan, selama hidup di dunia hendaknya manusia mencari makna hidup secara religius sehingga ketika ajal menjemput, manusia akan tersenyum karena sebentar lagi kesempurnaan akan diraihnya.
Pandangan yang sangat berbeda dikemukakan oleh kaum eksistensialis ( paham yang fokus pada kebebasan manusia sebagai individu) berpendapat, kematian adalah akhir dari segalanya. Ia merupakan batas antara ada dan ketiadaan manusia. Bagi mereka hidup hanyalah menunggu mati. Apa yang diperbuat selama manusia hidup tak berarti apa-apa bagi dirinya setelah mati. Mereka tak mengakui adanya kehidupan setelah kematian. Sartre mengatakan, kehidupan setelah kematian hanyalah omong kosong. Seorang filsuf eksistensialis yang lain, Karl Jaspers (1883-1969) memandang hidup adalah kesia-siaan belaka, tak bermakna sama sekali. Manusia hidup di dunia seperti terlempar dari suatu tempat tanpa ada kekuatan memilih untuk dilahirkan atau tidak.
 
Setelah kita memahami hakekat kematian, pertanyaannya adalah, bagaimana kita memandang kematian sebagai upaya memaknai kehidupan kita? Sebagai seorang yang religius tentunya kita percaya bahwa kematian adalah proses kembali kepada Zat Yang Maha Agung yaitu Tuhan sehingga cara memandang kematian dalam upaya memaknai hidup kita juga dalam konteks religius. 
Sebagai seorang yang beriman harusnya kita memahami bahwa sesungguhnya kematian merupakan hal yang wajar terjadi dalam kehidupan. Setiap yang bernyawa pasti akan mengalami dan merasakan kematian, karena mati telah menjadi pasangan bagi hidup. Kita harus menyadari bahwa kematian bagi manusia sesungguhnya bukan sebagai kehancuran yang tiada bermakna. Kematian justru berfungsi sebagai mediator untuk memahami eksistensi diri kita sebagai manusia yang merupakan mahkluk ciptaan Tuhan. Pengetahuan dan pemahaman tentang kematian yang semacam ini, tidak lagi menyisakan kecemasan dan ketakutan, melainkan memunculkan kerinduan untuk segera bertemu dengan kematian itu. Sebab, kematian akan membawa manusia kepada jatidirinya. Pengetahuan tentang kematian yang disertai dengan sentuhan ruhani, mengubah image kematian yang penuh dengan kegelapan dan ketersesatan menjadi suasana yang dirindukan penuh kesyahduan. Karena alam kematian mengantarkan manusia kepada asal mula kodrat manusia itu sendiri. Filsuf Miguel de Unamuno mengatakan bahwa kesadaran akan kematian membawa manusia dan individu-individu menjadi matang secara spiritual.  
Imam Ghazali menyebutkan, selain mendorong untuk melakukan kebajikan dan menghindari berbuat dosa, mengingat kematian juga membuat manusia tak larut dan terbuai dalam kepentingan dunia, sehingga tak menghalalkan segala cara mengejar harta, pangkat, dan jabatan. Mengingat kematian juga bisa menimbulkan gairah untuk mendekatkan diri pada Allah. Kematian juga merupakan batas bagi manusia untuk menanam kebajikan (di Dunia) dan saat memanennya (di alam Barzah dan Akhirat atau alam baka ). Setelah kematian, manusia tak dapat lagi menanam. Salah satu manfaat mengingat kematian adalah untuk memotivasi diri agar terus-menerus menanam kebajikan sebelum batas itu tiba.
Sekarang, seperti apa upaya yang harus kita lakukan untuk memaknai kehidupan kita sebelum kematian menyongsong kita? Orang Jawa mempunyai filosofis yang bermakna dalam yaitu “ urip mung mampir ngombe” hidup hanya mampir minum yang maksudnya bahwa hidup hanya sementara dan fana sehingga harus kita isi dengan hal-hal yang bermakna dan berguna bagi diri kita maupun sesama. Sehingga akhirnya benar-benar siap untuk menghadapi kematian dengan jiwa yang tenang, dan siap untuk mempertanggungjawabkan apa yang kita lakukan di dunia.


Prijobekti P