Sabtu, 24 April 2010

Pancasila Antara Ada Dan Tiada
Oleh Prijobekti Prasetijo

Dari 216 koisioner yang penulis sebarkan pada remaja berusia antara 15 sampai 18 tahun ternyata ada 62 anak atau sekitar 28 persen yang menjawab tidak penting terhadap pertanyaan yang saya ajukan yaitu masih pentingkah Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Penulis percaya bahwa hasil angket tersebut, sedikit banyak juga merupakan representasi pendapat masyarakat secara umum terhadap eksistensi Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Ada bebarapa alasan yang mendasari jawaban para remaja tersebut. Empat belas persen dari mereka yang menyatakan bahwa pancasila tidak penting beralasan bahwa mereka mempunyai pedoman hidup sendiri yang dianggap mampu membawa keselamatan di dunia dan akherat. Sementara selebihnya yaitu delapanpuluh enam persen menyatakan bahwa Pancasila dianggap tidak membawa perubahan yang lebih baik pada masyarakat, hal itu terlihat pada perilaku – perilaku yang bertententangan dengan nilai-nilai Pancasila dalam masyarakat kita, seperti konflik-konflik dalam masyarakat yang dilatarbelakangi oleh masalah SARA, kejahatan dan sebagainya serta praktik penyelenggaraan pemerintahan yang juga banyak menyimpang dari nilai-nilai Pancasila seperti maraknya praktik korupsi, kolusi dan nepotisme. Mereka berpendapat bahwa ada tidaknya Pancasila tidak berpengaruh dalam kehidupan bermasyarakat , berbangsa dan bernegara.
Sementara para remaja yang yang menjawab bahwa Pancasila bahwa tetap penting bagi bangsa Indonesia memberikan argumen sebagai berikut, tiga puluh Sembilan persen siswa menyatakan bahwa secara legal formal Pancasila adalah dasar negara yang harus tetap dipertahankan. Sementara enampuluh satu persen menjawab bahwa Pancasila tetap penting dalam kehidupan berbangsa dan negara karena diyakini tetap mampu menuntun masyarakat Indonesia pada tercapainya tujuan negara kita yaitu masyarakat adil dan makmur.
Dari jawaban siswa terhadap kuosioner saya tersebut kita menangkap sebuah ironi, mengapa? Karena nilai-nilai Pancasila yang digali dan dirumuskan dari nilai-nilai luhur bangsa kita oleh The Faunding Fathers yang telah terbukti dan kita yakini keampuhannya dalam mengawal keutuhan NKRI ternyata justru diragukan eskistensinya oleh sebagian generasi muda kita yang justru kita harapkan nantinya mampu menjadi pengawal Pancasila. Apabila kita simpulkan, remaja obyek penelitian saya yang menjawab bahwa secara idiologis dalam arti mengakui bahwa Pancasila merupakan idiologi ideal bagi bangsa Indonesia hanya enam puluh persen. Pertanyaannya adalah mengapa terjadi fenomena seperti tersebut?

Miskinnya Keteladanan Dalam Masyarakat
Salah satu faktor yang menyebabkan menipisnya kepercayaan sebagian generasi muda kita terhadap kekuatan dan peran Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dikarenakan mereka tidak memperoleh dan melihat keteladan dalam masyarakat. Yang mereka saksikan justru adalah praktik – praktik menyimpang yang dilakukan oleh pribadi-pribadi dan lembaga yang sepatutnya menjadi sumber keteladan bagi mereka. Baik itu guru, pemimpin masyarakat dan pemimpin Negara. Praktik korupsi yang marak dan praktik penegakkan hukum yang masih jauh dari nilai-nilai keadilan merupakan fenomena yang mereka lihat dalam kehidupan sehari-hari.
Pancasila hanya sekadar sebagai formalitas
Nilai-nilai Pancasila yang sangat ideal yang seharusnya mampu memberi orientasi dan menjadi koridor bagi sikap dan perilaku seluruh anggota masyarakat kita, termasuk generasi muda kita. Pancasila hanya akan menjadi sekedar nilai yang tak teraplikasikan dalam praktik kehidupan nyata, ketika nilai-nilai Pancasila itu hanya secara formal kita ajarkan dalam praktik pembelajaran tanpa disertai upaya untuk mengaktualisasikan nilai-nilai itu dalam praktik kehidupan nyata. Pembelajaran nilai-nilai Pancasila dalam pelajaran di sekolah menjadi tidak berarti ketika tidak ada upaya untuk menginternalisasikan nilai-nilai Pancasila dalam praktik kehidupan nyata terutama dalam kehidupan bersama di lingkungan sekolah. Sekolah seharusnya bisa menjadi wahana awal bagi generasi muda dalam upaya menginternalisasikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bersama, seperti misalnya nilai-nilai demokrasi, penghargaan terhadap kebinekaragaman dan keberbedaan, penghargaan terhadap HAM dan sebagainya. Dan faktanya, kalau kita mau jujur, pembelajaran kewarganegaraan di sekolah baru sebatas upaya formal mengajarkan nilai-nilai Pancasila. Belum pada upaya untuk menginternalisasikan dan mengaktualisasikan nilai – nilai Pancasila dalam kehidupan bersama. Pancasila hanya sekedar dihafalkan dan diucapkan dalam upacara-upacara bendera setiap hari senin dan peringatan hari-hari nasional.
Adanya elemen masyarakat yang menolak Pancasila
Pancasila nampaknya ditolak oleh beberapa elemen masyarakat yang nampaknya menolak Pancasila sebagai idiologi Negara. Hal ini tentunya juga membawa pengaruh pada pemikiran generasi muda kita. Dicabutnya Pancasila sebagai satu-satunya asas tunggal yang ditetapkan dalam ketetapan MPR nomor XIII/MPR/1998 nampaknya ditanggapi dengan sikap euforia oleh sebagian orang dengan menganggap bahwa Pancasila tidak penting lagi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Melihat fenomena tersebut, nampaknya perlu dilakukan upaya yang lebih sunguh-sungguh untuk menanamkan niali-nilai Pancasila dalam kehidupan bersama dengan cara merevitalisasi nilai-nilai pancasila dalam kehidupan bersama. Ada beberapa upaya yang dapat kita lakukan untuk menginternalisasikan nilai-nilai Pancasila sebagai upaya membangun manusia Indonesia yang Pancasilais:
Menjadikan keluarga sebagai ujung tombak penanaman nilai-nilai Pancasila
Keluarga merupakan wahana utama dan pertama terjadinya sosialisasi pada anak, dengan demikian keluarga memegang peranan penting bagi pembentukan karakter dan mental manusia Indonesia. Dalam konteks menanamkan nilai-nilai Pancasila, keluarga dapat kita gunakan sebagai wahana menanamkan sikap empati, nilai-nilai spritualitas, menghargai dan mencintai sesama dengan tulus serta menghargai persamaan derajat setiap orang. Dengan penanaman nilai-nilai tersebut dalam lingkungan keluarga kita berharap anak-anak kita akan tumbuh menjadi manusia yang mampu memahami dan menjalankan nilai-nilai Pancasila dalan kehidupan berbangsa dan bernegara.
Menanamkan sikap demokrasi di sekolah
Sosialisasi di sekolah merupakan wahana untuk menanamkan kesadaran Plurality of Majesty yaitu kesadaran akan keberbedaan, bahwa berbeda itu indah, bahwa keberbedaan diantara mereka adalah satu hal yang harus diterima dan dihargai. Sekolah juga dapat dimanfaatkan untuk menanamkan kesadaran egaliter yaitu semangat kesetaraan sebagai warga negara. Bahwa semua orang adalah sama dan sejajar tidak ada yang merasa bahwa dia merupakan anggota masyarakat yang istimewa karena latar belakang maupun status sosialnya. Disisi lain, sekolah harusnya juga menjadi wahana untuk mengembangkan rasa tenggang rasa, empati dan simpati serta toleran terhadap teman dan sesama. Sekolah mempunyai tugas mulia untuk menciptakan lingkungan sekolah yang memberi ruang bagi berkembangnya sikap-sikap tersebut di atas.
Perlunya keteladanan dari para pemimpin dan orang tua
Orang tua dan para pemimpin harusnya mampu menjadi teladan yang baik bagi upaya menanamkan nilai-nilai Pancasila, tidak hanya lewat kata-kata tapi lewat tindakan dan kebijakan yang nyata. Pemimpin harus mampu mengayomi dan memperlakukan semua warga masyarakat secara adil sehingga setiap anggota masyarakat merasa nyaman, tentram dan merasa bangga menjadi bagian dari masyarakat, bangsa yang berdasar Pancasila.
Dengan upaya-upaya tersebut, diharapkan generasi muda benar-benar memahami dan mau mempraktikkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan keseharian. Tanpa upaya yang sungguh sungguh dari semua elemen masyarakat, Pancasila hanya akan menjadi lambang yang tanpa makna, ada namun tiada.
Prijobekti Prijobekti P.
Guru SMA Negeri 1 Purworejo

Tidak ada komentar: