Oleh Prijobekti Prasetijo
Partai Final Liga Champions antara Manchester United dengan Barcelona terlalu sayang untuk dilewatkan. Sehingga udara dingin yang membalut malam tidak menghalangi niat untuk menyaksikan pertarungan antara dua tim jagoan Eropa tersebut di atas. Akan tetapi badan lelah nampaknya tidak bersedia berkompromi. Ketika Etoo mencetak gol cantik mataku tidak mampu lagi kubuka dan lelaplah aku.
Tiba-tiba aku telah melayang-layang di atas awan dengan menaiki permadani terbang. Aku menggunakan pakaian seperti pangeran di dalam cerita-cerita negeri dongeng dan beberapa orang mengiringi aku dengan pakaian prajurit penggawal. Mereka juga menaiki permadani terbang seperti aku.
“ Dimana aku?” tanyaku pada mereka.
“ Tuanku sedang melakukan perjalanan ke negeri impian, negeri indah tiada taranya”, jawab seorang prajurit yang mengawal aku.
“ Negeri impian? Negeri manakah itu?”
“ Lihatlah ke bawah tuanku!” kata seorang pengawalku yang lain.
Kulihat ke bawah dan terlihat pemandangan yang luar biasa indah. Sebuah negeri yang elok nan kaya raya. Sawah menghampar subur, pepohonan yang lebat, dan lautan luas yang sungguh mempesona.
“ Sungguh luar biasa!” kataku dengan kagum. “Inikah yang kamu sebut negeri impian itu?” tanyaku.
“ Benar, tuanku. Inilah negeri nan elok yang akan tuan kunjungi”, jawab seorang pengawalku.
Sambil tetap melayang dengan permadani terbang kami meneruskan perjalanan mengelilingi negeri impian tersebut.
“ Lihatlah!” kataku sambil menunjuk ke bawah. “Penduduknya sangat rajin, pekerja keras dan guyup rukun”.
“ Benar, tuanku. Mereka dikenal sebagai pekerja-perkerja keras dan rajin tetapi juga rukun”, jawab salah seorang dari pengawalku.
Kami terus melakukan perjalanan mengelilingi negeri impian. Ketika memasuki kawasan perkotaan kami melihat kerumunan dimana-mana. Anak-anak dan sebagian orang tua kelihatan khusuk dan tenang melakukan kegiatan.
“ Sedang apa mereka?” Nampaknya mereka begitu khusuk dalam diam mereka.” Tapi raut muka mereka terlihat menyimpan kekhawatiran yang amat dalam”, salah seorang pengawalku bertanya.
“ Mari kita hampiri mereka!” perintahku.
Kami kemudian menghampiri salah satu tempat dimana sekumpulan remaja dan sebagian orang tua sedang khusuk. Kelihatannyanya mereka sedang melakukan kegiatan spiritual. Kami turun dari permadani terbang dan berjalan mendekati salah seorang laki-laki dari komunitas tersebut.
“ Bapak, boleh kami bertanya?” tanyaku kepada orang tersebut
“ Silakan, tuan!” jawabnya
“ Sedang apa kalian?” Banyak sekali orang berkumpul berdoa tetapi terlihat menyimpan kekhawatiran yang amat dalam”.
“ Kami sedang memohon pertolongan Tuhan, tuan. Besok murid-murid kami akan melaksanakan ujian sekolah. Kami mendoakan agar semua murid kami lulus dengan hasil memuaskan”.
“ Luar biasa. Bangsa ini sungguh beriman”, jawabku
“ Silakan singgah tuan!” kata orang tersebut sambil mengajak kami memasuki sebuah ruangan di sekolah tersebut.
“ Sepertinya bapak adalah pemimpin di sini?” tanyaku kepada laki-laki tersebut.
“ Benar, tuan. Saya kepala sekolah disini”, jawabnya. “Tuan nampaknya baru saja melakukan perjalanan jauh, silakan istirahat di sini barang sebentar”, tambah orang tersebut.
“ Beginilah tuan, setiap tahun kami harus melaksanakan ujian untuk menentukan kelulusan murid-murid kami. Kami harus bekerja keras mempersiapkan murid-murid kami agar mereka dapat lulus semuanya. Segala kemampuan kami kerahkan untuk membantu murid-murid kami”, katanya lagi.
“ Berat sekali beban yang harus bapak emban”, kataku membesarkan hatinya.
“ Ya, begitulah. Tapi semua adalah bagian dari tugas kami untuk memajukan dunia pendidikan bangsa kami, tuan. Dan untuk itu kami harus lebih banyak berdoa memohon pertolongan dari Tuhan”.
“ Kami dengar tiap tahun standar kelulusan terus ditingkatkan, tuan?” seorang pengawalku bertanya.
“ Benar tuan, tidak hanya standar kelulusan tetapi jumlah mata pelajaran yang diujikan juga ditambah. Bahkan rencananya tahun depan mata pelajaran agama juga akan diujikan dalam ujian nasional. Semua itu kami lakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di negeri kami tuan”, jawab sang kepala sekolah dengan penuh semangat.
“ Luar biasa bangsa bapak ini, keimanan dan spiritual juga dapat diukur dengan angka-angka, ya”, jawabku dengan takjub.
“ Terima kasih tuan atas waktunya, semoga ujian dapat berjalan dengan lancar dan sukses ”, kataku sambil memohon diri.
“ Sama-sama tuan ”, jawab sang kepala sekolah.
Kami meneruskan perjalanan mengelilingi negeri impian yang sunguh menawan. Kami menikmati keindahan alam dan keramahan penduduknya.
Keesokan harinya kami meneruskan perjalanan keliling negeri impian dengan mengendarai permadani terbang.
“ Tuanku, hari ini negeri ini mengadakan ujian, bagaimana kalau kita melihatnya. Mungkin kita bisa belajar dari mereka untuk meningkatkan kualitas pendidikan di negeri kita.”
“ Baiklah, mari kita lihat!”Jawabku.
Kami kemudian merendahkan permadani terbang kami mendekati sekolah yang kemarin kami kunjungi. Karena kemampuan tembus pandang dan pendengaran jarak jauh yang kami miliki, kami dapat melihat dengan jelas suasana ruang ujian di sekolah tersebut.
“ He, lihat! Betapa terpujinya murid-murid di sini. Mereka sangat santun, sebelum masuk kelas mereka menyalami guru para dan mencium tangan mereka”, kata seorang prajurit pengawalku.
“ Mungkin itulah keunggulan pendidikan di sini”, sahut ku.
Kami lihat di dalam kelas begitu tenang, tapi ternyata itu hanya sesaat. Karena ketika menit-menit semakin berlalu, para murid mulai nervous.Mereka mulai berbicara satu dengan yang lain, sementara guru-guru yang bertugas mengawasi nampaknya bersikap tak acuh.
“ Lho…lho! Mereka ujian atau kerja kelompok? Kok, bekerja sama begitu? Para pengawas pun tidak ambil peduli?” tanyaku dengan heran. Murid-murid saling melongok kertas ujian di depannya. Ternyata walaupun kode soal berbeda, para murid tahu bahwa soalnya tetap sama, hanya nomor soal yang berbeda. Sehingga dengan mudah mereka mencontek lembar soal ujian yang sudah dilingkari jawaban teman di depannya.
“ Lihat, Tuanku! ada guru yang juga mengerjakan soal di dalam kelas,” seorang pengawalku berteriak. Kami semua mengamati, dan ternyata benar ada seorang pengawas yang dengan cepat mengerjakan soal ujian dan menuliskan jawaban pada selembar kertas. Padahal konon kabarnya ada aturan yang melarang guru untuk membuka dan mengerjakan soal ujian selama ujian berlangsung.
Kami kemudian beralih ke ruangan lain, nampaknya ruang panitia ujian. Kami lihat seorang guru juga sedang sibuk mengerjakan soal ujian dan menyalin jawaban soal pada selembar kertas dan memberikan pada guru lain dan beberapa guru kemudian memperbanyak lembar jawaban tersebut dengan cepat pula. Seorang guru kemudian membawa lembar jawaban tersebut keliling kelas. Dengan cepat dan nyaris tidak terlihat guru tersebut melemparkan gulungan kertas kecil kepada seorang muridnya yang duduk di baris paling depan ketika dia memasuki kelas untuk mengedarkan presensi pengawas ujian. Tidak kalah sigap si murid memungut gulungan kertas kecil yang berisi lembar jawaban ujian tersebut dan setelah selesai melemparkan gulungan kertas tersebut pada teman di belakangnya.
Beberapa lama kemudian kami juga melihat seorang guru perempuan yang tergoboh-goboh masuk sebuah kelas dan berbisik-bisik dengan pengawas.
“ Amir, dompetmu ketinggalan”, kata guru perempuan tersebut sambil mengangkat sebuah dompet. Murid yang bernama Amir dengan sigap maju ke depan kelas dan menerima dompet dari gurunya tersebut.
“ Jangan lupa diperiksa surat suratnya lengkap atau tidak”,kata guru tersebut. Dengan cepat Amir memeriksa dompetnya dan menarik gulungan kecil kertas yang berisi jawaban soal ujian dan menyalin dengan cepat. Setelah selesai Amir melemparkan gulungan kecil soal tersebut pada teman disampingnya.
“ Nampaknya banyak cara dan metode yang digunakan ya”, seorang pengawal berkata mengomentari kecurangan-kecurangan tersebut.
“ Ya, dari yang konvensional sampai yang mutakhir. Dari metode toilet sampai menggunakan Handphone digunakan untuk melakukan kecurangan”. Jawab pengawal yang lain
“ Para pengawas itu nampaknya juga tidak menjalankan fungsinya dengan baik, ya?” tanyaku
“ Sebenarnya mungkin mereka tahu, tuan. Hanya mereka membiarkannya”, jawab seorang pengawal.
“ Lho, kok bisa?” tanyaku lagi
“ Mungkin ada semacam simbiose mutualisme di antara mereka”, jawab seorang pengawalku yang lain.
“ Maksudnya?” tanyaku
“ Antara satu sekolah dengan sekolah yang lain mungkin saling sepakat untuk tidak terlalu ketat dalam mengawasi ujian, Tuanku”, jawab prajuritku yang lain.
“ Jangan – jangan mereka membuat MOU ( Memorandum Under Standing ) gitu,” pengawal yang lain menyaut. Semua ketawa ngakak mendengar komentar tersebut.
“ Atau mungkin mereka juga merasa tertekan seperti halnya murid yang diawasi”, kata seorang pengawal.
“ Kenapa?” tanyaku
“ Dalam beberapa kasus, sikap tegas ternyata justru menyulitkan para pengawas itu sendiri”, jawab pengawal tadi.
“ Sikap tegas dari pengawas ujian justru dianggab sebagai tindakan yang dianggab mengganggu konsentrasi para siswa dalam mengerjakan soal ujian, sehingga para pengawas tersebut yang justru ditegur atau bahkan diganti”, tambah pengawal tersebut.
Setelah bel tanda ujian selesai berbunyi para murid keluar ruangan dengan wajah cerah dan menyalami para guru. Kami lihat si bapak kepala sekolah dengan hangat menyalami para muridnya dan tersenyum lebar. Nampak puas dan bangga bisa membantu para muridnya.
“ Antara doa dan perbuatan ternyata tidak sejalan”,celetuk seorang pengawalku.
“ Tapi paling tidak niat para guru itu baik”, jawab yang lain
“ Niat baik dengan cara yang tidak benar,” jawab si pengawal lain dengan nada jengkel.
“ Sudah-sudah! mengapa justru kalian yang jengkel”, kataku menyudahi perdebatan.
“ Gedubrak!” tiba-tiba permadani terbangku menabrak sebuah pohon kelapa di samping sekolah. Dengan cepat aku jatuh ke bawah dan terhempas ke tanah dengan keras.
Aku buka mataku, dan kulihat di depanku layar TV masih menyala. Kulihat jam dinding pukul 04.30 dan samar-samar TV sedang menyiarkan cuplikan final Liga Champion antara MU dengan Barcelona dini hari. Nampak di layar TV Messi menyundul umpan silang di depan gawang dan goooo ...... ool
Ternyata aku hanya mimpi. Sementara di bagian bawah layar TV ada teks yang berjalan, tertulis “Mendiknas menyatakan bahwa hanya diketemukan 22 kasus kecurangan pada saat Unas. Turun 100% dari tahun lalu. Syukur Alhamdullilah, Puji Tuhan. Aku ternyata masih di negeriku tercinta, Indonesia. Bukan di negeri mimpi yang penuh kecurangan.
Borobudur Pos Agustus dan September 2009
Tidak ada komentar:
Posting Komentar