Siapa Menabur Angin Akan Menuai Badai
Oleh Prijobekti P.
Berita tentang bencana alam di tanah air kembali marak lagi. Di media masa, baik cetak maupun elektronik hampir setiap hari memuat dan menampilkan terjadinya bencana alam di seluruh Indonesia. Di negara kita, bencana alam nampaknya sudah menjadi agenda tahunan yang selalu datang tanpa dapat diantisipasi terlebih dahulu. Masyarakatpun nampaknya telah menjadi terbiasa dan makhlum dengan adanya bencana yang silih berganti dan memakan banyak korban nyawa tersebut.
Bencana alam yang selalu datang merupakan konsekuensi logis dan hasil tuaian dari pengelolaan sumber daya alam yang tidak benar di negara kita. Terutama pengelolaan sumber daya alam hutan. Seperti kita ketahui, setelah tumbangnya kekuasaan Orde Baru penjarahan hutan terjadi di seluruh tanah air. Sebagian orang nampaknya mengalami euforia dalam menebang dan merampok hutan-hutan di seluruh wilayah Indonesia. Hutan dijarah seakan-akan semua merupakan warisan yang harus segera dihabiskan. Sehingga tidak berlebihan apabila ada pendapat yang mengatakan bahwa kerakusan kita melebihi apa yang dilakukan oleh penjajah Belanda dalam mengeksploitasi kekayaan alam Indonesia. Belandapun tidak setamak dan serakus kita dalam menjarah kekayaan milik bangsa sendiri.
Di kabupaten Purworejo pun euforia penjarahan hutan terjadi. Hutan-hutan jati yang berusia puluhan tahun bahkan ratusan tahun telah habis dijarah oleh manusia-manusia rakus yang tidak bertanggung jawab. Akibatnya, Purworejo pun menjadi wilayah dengan potensi bencana alam yang besar. Bencana alam banjir dan tanah longsor mengancam jiwa kita dan menyebabkan kerugian secara ekonomi apabila tidak mendapat penangganan yang benar.
Awal musim penghujan tahun 2008 ini, di beberapa kawasan Purworejo mempunyai potensi bencana yang sangat besar. Di beberapa daerah pegunungan seperti Kaligesing, Bener, Loano, Kemiri, Bagelen dan Bruno mempunyai potensi bencana tanah longsor yang sangat besar hal itu disebabkan karena tidak adanya hutan-hutan yang cukup mampu menahan air hujan akibat habisnya hutan-hutan jati milik perhutani serta praktik penebangan pohon akhir-akhir ini oleh masyarakat akibat desakan kebutuhan ekonomi. Memang pohon-pohon yang ditebang merupakan milik pribadi, akan tetapi apabila dilakukan secara berlebihan dan tanpa terkontrol akan menyebabkan rusaknya ekosistem dan terjadinya bencana yang merugikan masyarakat.
Potensi bencana alam banjir di wilayah Purworejo juga sangat besar terutama di daerah aliran sungai. Sepengetahuan penulis, di daerah Tunggorono tepatnya sebelah Timur jembatan Tunggorono, sebelah barat sungai Karang Duwur kemudian daerah aliran Sungai Jali seperti di Winong, Sidarum, Wingko, ngombol , Bagelen dan Butuh serta ketika hujan deras air sungai sudah sejajar dengan permukaan tanah sehingga meluber ke areal pertanian, pekarangan dan jalan. Di Kutoarjo, Jembatan yang menghubungkan Semawung Daleman dengan Jatingarang hampir terendam air sungai. Di Desa Briyan tepatnya disekitar SMAK 4 juga sudah tergenang air ketika hujan lebat. Hal tersebut, apabila tidak ditangani dengan benar akan menjadi bencana yang sesungguhnya.
Untuk mencegah terjadinya bencana alam di Purworejo diperlukan upaya yang lebih sungguh-sungguh. Ada beberapa upaya yang mungkin dapat mencegah terjadinya bencana alam di Puworejo, khususnya banjir dan tanah longsor.
Melarang melakukan kegiatan pertanian di daerah aliran sungai
Pemerintah daerah harusnya bersikap tegas terhadap kegiatan pertanian di daerah aliran sungai karena kegiatan tersebut menyebabkan turunnya permukaan tanah sehingga pada musim hujan air meluber dan menjadi potensi terjadinya banjir. Pemanfaatan daerah aliran sungai tersebut bisa kita lihat di daerah Tunggorono, Winong, Karang Duwur dan Bagelen.
Pembatasan yang lebih tegas terhadap penebangan pohon di daerah Hulu sungai dan pegunungan serta daerah aliran sungai
Dinas yang terkait harus bertindak lebih tegas terhadap praktik penebangan pohon di daerah hulu, pegunungan dan daerah aliran sungai, terutama kayu yang penebangan dan penjualannya harus membutuhkan ijin. Aparat bekerja sama dengan desa harus benar-benar memantau dan membatasi penebangan pohon di suatu desa, sehingga jangan hanya karena kepentingan ekonomi semata pohon-pohon ditebang habis. Aparat juga perlu bertindak tegas menangkap dan memenjarakan oknum yang melanggar peraturan dan hukum dalam penebangan pohon yang membutuhkan ijin khusus. Berkaitan hal tersebut penangkapan dan proses hukum yang dilakukan oleh aparat harusnya mendapat apresiasi yang positif dari masyarakat, bukan justru dikritik dan dikecam.
Perlunya kegiatan penghijauan yang berkelanjutan dan terintegrasi
Pemerintah daerah dan dinas-dinas terkait perlu mengadakan gerakan penghijauan secara berkelanjutan dan terintegrasi serta melibatkan semua elemen masyarakat. Akan tetapi satu hal yang perlu diingat, kegiatan itu jangan hanya bersifat formal dan seremonial semata akan tetapi dilakukan secara sungguh-sungguh dan profesional. Artinya, kegiatan penghijauan itu benar-benar dipersiapkan , dikelola dan dipantau serta dievaluasi.
Menanamkan kesadaran memelihara lingkungan sebagai bagian dari masyarakat global.
Pemerintah bekerjasama dengan dinas pendidikan, perlu mengadakan gerakan menanamkan kesadaran memelihara lingkungan. Khususnya terhadap generasi muda lewat lembaga formal yaitu sekolah. Dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi perlu ditanamkan kesadaran mencitai dan memelihara lingkungan. Contohnya, sekolah-sekolah dan perguruan tinggi diikutsertakan dalam kegitan-kegiatan penghijaun yang diprakarsi oleh pemerintah daerah atau dinas-dinas terkait. Dan jika memungkinkan dapat dimasukkan kedalam kurikulum, sebagai muatan lokal. Terlebih lagi, sebagai bagian dari masyarakat global generasi muda khususnya dan masyarakat pada umumnya diajak untuk menyadari bahwa memelihara lingkungan di sekitar kita juga merupakan upaya menjaga lingkungan hidup secara keseluruhan sebagai bagian dari umat manusia secara global.
Kesimpulannya adalah, tanpa penanganan yang benar terhadap potensi bencana di Purworejo akan membawa bencana sesungguhnya. Dan Jangan sampai pepatah yang berbunyi ” Siapa menabur angin akan menuai badai ” terjadi di Purworejo.
Prijobekti Prasetijo, Guru SMA I Purworejo

