Sabtu, 13 September 2008

Perempuan Mahkluk Lemah ? Itu Mitos


Perempuan Mahkluk Lemah ?
Itu Mitos.
“Sebuah Refleksi Tentang Kesetaraan Gender”
Oleh : Prijobekti Prasetijo

“Perempuan dikaruniai sembilan perasaan dan satu otak, sementara laki-laki satu perasaan dan sembilan otak”, demikian ungkapan yang sering kita dengar. Pada intinya ingin mengatakan bahwa laki-laki dianugrahi oleh Tuhan dengan kemampuan logika atau otak yang lebih baik dibanding perempuan. Sementara perempuan dianugrahi perasaan yang lebih sensitif dan lebih banyak bertindak berdasarkan perasaan dibandingkan otaknya. Ungkapan tersebut nampaknya ingin menegaskan stereotip yang berlaku di seluruh dunia bahwa laki-laki berada di wilayah kiri ( otak bagian kiri ) yaitu aktif, beradab, rasional, dan cerdas sementara perempuan di wilayah kanan yaitu pasif, dekat dengan alam, emosional dan kurang cerdas ( Mariana Amirudin, 2008). Yang lebih keterlaluan lagi adalah stereotip yang ada dalam masyarakat kita pada masa lalu yang mengatakan perempuan dikatakan sempurna apabila memenuhi 3 kewajiban yaitu, macak, masak, dan manak serta anggapan yang mengatakan bahwa area yang tepat untuk perempuan adalah dapur, kasur dan sumur.

Stereotip yang menempatkan perempuan lebih rendah dari laki-laki ternyata muncul berabad-abad yang lalu, seperti misalnya seorang penyair metafisis Inggris mengambarkan perempuan itu cuma kata-kata sedang perbuatan adalah pria .Perempuan dianggab abstrak sementara laki-laki konkret. Woman is nothing, mungkin itu yang ingin dikatakan oleh penyair metafisis tersebut. ( Mariana Amirudin, 2008 )

Seorang dramawan Yunani yang bernama Anthiphanes juga mengatakan bahwa perempuan tak akan hidup lagi setelah kematian, kecuali dibangkitkan oleh lawan jenisnya yaitu laki-laki. Anggapan-anggapan yang bertahan sampai sekarang menyebabkan perlakukan-perlakuan yang tidak wajar terhadap perempuan, laki-laki nampaknya merasa dirinya lebih superior dibanding perempuan dan berhak menguasainya. ( Mariana Amirudin, 2008).

Stereotip seperti di atas disebabkan karena masyarakat di banyak negara dipengarui oleh budaya paternalistik yang male-dominated dan male-centred dimana laki-laki menguasai banyak aspek dalam kehidupan. Dalam masyarakat kita kadang-kadang orang tua hanya cenderung mementingkan pendidikan laki-laki. Orang tua secara tidak sadar memposisikan perempuan hanya pada peran menjalankan tugas kerumahtanggaan, sehingga anak perempuan diberi tugas mencuci, mengepel, masak, momong adik. Sementara itu anak-laki-laki diarahkan pada kegiatan yang lebih kompetitif (Tjahyono Widarmanto, 2006).

Pertanyaan kita, benarkah streotif diatas? Dari banyak analisa, pendapat, dan penelitian ternyata stereotip di atas hanya mitos. Menurut penelitian Andrean Furhham seorang peneliti asal Inggris yang melakukan 30 penelitian diseluruh dunia disimpulkan bahwa laki-laki dan perempuan setara dalam segala hal termasuk IQ. Hanya saja laki-laki lebih percaya diri dengan potensi dirinya, sementara perempuan justru sebaliknya, percaya bahwa laki-laki lebih lebih pintar dibanding perempuan.

Dr. Robert Groski seorang ahli neurology dari Universitas Calivornia Los Angeles menemukan fakta bahwa otak perempuan memiliki corpus Colosum ( lapisan tengah otak) yang lebih tebal daripada lapisan tengah otak laki-laki. Hal itu menyebabkan perempuan bisa mengerjakan beberapa pekerjaan yang tidak saling berhubungan sekaligus dalam waktu bersamaan sementara laki-laki harus hanya bisa fokus pada pada satu pekerjaan. ( Rahmah Hasjim, 2007 ).

Basuki Abdullah pelukis kita yang terkenal pernah mengatakan bahwa perempuan itu lebih pantas dilukis daripada melukis. Dia pernah menyatakan bahwa Kartika anaknya jangan jadi pelukis, karena apa yang dia lakukan pasti akan dihubungkan dengan nama besar ayahnya. Akan tetapi, Kartika mampu menghasilkan karya yang berkualitas lepas dari bayang-bayang nama besar bapaknya.

Dari penelitian juga terbukti bahwa perempuan lebih kuat dalam menghadapi tekanan secara psikis . Hal itu terbukti dari hasil penelitian tentang angka bunuh diri di berbagai negara. Penelitian itu menunjukkan bahwa angka bunuh diri di semua negara kecuali Cina prosentase laki-laki lebih tinggi dibandingkan perempuan. Sebagai contohnya pada tahun 2003 dari tiap 100.000 ribu orang di Finlandia terdapat 26 orang laki-laki melakukan bunuh diri sementara perempuan hanya 9 orang, di Ceko laki-laki 27 orang dan perempuan 6 orang, sementara di Australia laki-laki 27 orang dan perempuan 9 orang. ( www.wikipedia.com )

Prof. Arif Budiman, seorang sosiolog Indonesia yang mengajar di Universitas Melbourn, Australia dalam bukunya yang berjudul “ Pembagian Kerja Secara Seksual ” mengatakan bahwa pada masa pra-sejarah kehidupan bermasyarakat justru didominasi oleh perempuan, perempuan berburu, memanjat dan bercocok tanam, sementara laki-laki mempunyai tugas “ istimewa ” sebagai penerus keturunan. Paradigma yang berkembang sampai saat ini bahwa perempuan lebih dikendalikan oleh perasaan. Sementara itu laki-laki dikendalikan oleh logika, nalar dan akal sehat yang lebih didasari pada keinginan laki-laki untuk mengambil alih dominasinya sebagai pemimpin dan ‘penguasa’ dalam kehidupan bermasyarakat.
Arif Budiman juga mengemukakan, apabila perempuan diberi kesempatan yang sama maka perempuan pun dapat melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh laki-laki, termasuk pekerjaan-pekerjaan yang membutuhkan kemampuan fisik.

Dunia-pun sebenarnya sudah mencatat tentang kepemimpinan wanita yang sangat kuat bahkan mereka mendapat julukan ‘wanita besi’ karena sikap mereka yang keras dan berani. Sebagai contoh, Golda Meir yang memimpin Israel sebagai Perdana mentri sekitar tahun 60-an, Indira Gandhi PM India yang akhirnya tewas terbunuh oleh pengawalnya sendiri dan Margareth Teacher mantan perdana menteri Inggris yang memerintah Inggris selama 11 tahun. Di samping itu kita masih mengenal pemimpin-pemimpin wanita seperti, Sirimavo Bandaranaike, Almarhumah Benazir Bhuto, Begum Khalida Zia dan Corazon Aquino, dan masih banyak lagi.

Indonesia pun pernah mempunyai pemimpin-peminpin wanita yang kuat dan berani, seperti ratu Tribuana Thungga Dewi yang memerintah Majapait pada masa patih Gajah Mada, Cut Nya Dien pahlawan Aceh yang pemberani, Ratu Shima, Christina Martha Tiahahu dan sebagainya.

John Naisbit dan Patricia Aburdance, seorang futurelook dan penulis terkenal, dalam bukunya yang berjudul “ Megatrend 2000” antara lain mengatakan bahwa abad 21 adalah era perempuan. Kepemimpinan dunia dimasa depan berada di tangan perempuan, hal itu ditandai dengan kepemimpinan perempuan di beberapa negara di Asia, Eropa dan Amerika. Dalam penelitiannya, John dan Patricia juga menemukan fakta bahwa prestasi terbaik di Universitas-universitas terkenal di Eropa dan Amerika sebagian besar diraih oleh perempuan.

Di Indonesia sendiri menurut penelitian yang dilakukan oleh Abdul Mukti pada tahun 2001 menunjukkan bahwa perempuan ternyata memiliki indeks prestasi yang lebih baik dibanding laki-laki. Di UGM juga didapatkan data menarik bahwa lulusan yang berpredikat dengan pujian lebih banyak diraih perempuan dibanding laki-laki (Tjahyono Widarmanto, 2006).

Dari uraian di atas nampaknya kita dapat mengambil kesimpulan bahwa perempuan adalah mahkluk kuat yang mempunyai kapasitas, kemampuan yang sama dengan laki-laki dan tidak diperlakukan secara diskriminatif serta sudah seharusnya mendapat kesempatan untuk berkarya dan mengembangkan kemampuan setinggi-tingginya.

2 komentar:

Anonim mengatakan...

ya benar Pak...sebenarnya wanita diciptakan oleh Tuhan dengan derajat yang sama dengan pria, cuma mereka sendiri yang memposisikan dirinya menjadi agak rendah, misalnya dengan berpakaian mengumbar aurat, sehingga menurunkan derajat dirinya

Priyo mengatakan...

iya beetul mas yoyok