Sabtu, 13 September 2008

Nasionalisme, Sebuah Pembelajaran


Oleh : Prijobekti Prasetijo

Menjelang peringatan ke-100 tahun kebangkitan nasional Indonesia, kita merasakan suasana yang gegap gempita di mana-mana. Semua instansi dan lembaga beramai-ramai dan nampaknya berusaha membuat acara peringatan hari kebangkitan nasional semeriah mungkin.

Peringatan itu memang sangat penting, terutama untuk momen yang keseratus kali ini, apalagi apabila kita hubungkan dengan situasi bangsa yang sedang mengalami keterpurukan dalam segala aspek kehidupan, seperti keterpurukan ekonomi akibat hutang negara yang sangat besar, harga minyak dunia yang sangat tinggi, semakin banyaknya pengangguran dan bertambahnya kemiskinan serta melambungnya harga kebutuhan sehari-hari , biaya pendidikan yang sangat tinggi, korupsi yang semakin merajalela, eksploitasi sumber daya alam oleh pihak asing maupun oleh bangsa sendiri seperti pembalakan liar serta terjadinya konflik vertikal dan potensi disintegrasi bangsa yang masih kuat.

Peringatan keseratus tahun kebangkitan nasional ini menjadi sangat penting karena menjadi alat refleksi perjalan bangsa Indonesia selama ini, apakah kita benar-benar mampu memaknai pentingnya rasa nasionalisme dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ; seperti yang sudah dirintis dan diperjuangkan oleh pendahulu kita seratus tahun yang lalu. Jadi, harusnya peringatan keseratus tahun kebangkitan nasional kita tidak hanya menjadi acara seremonial yang bersifat rutin dan euforia semata.

Semakin merosotnya rasa nasionalisme bangsa Indonesia tidak hanya sekadar kita sikapi dengan mengadakan upacara-upacara saja, terlebih penting adalah bagaimana menanamkan jiwa dan semangat nasionalismne dalam diri bangsa kita terutama generasi muda kita, sehingga kita mampu bangkit mengatasi keterpurukan yang kita alami dan mampu mengangkat kembali harkat dan mertabat bangsa dan negara kita. Dan media yang paling tepat adalah pendidikan, baik pendidikan non formal ; terutama di keluarga maupun disekolah sebagai lembaga pendidikan formal.

Hans Kohn mendifinisikan bahwa nasionalisme adalah kesetiaan tertinggi individu diserahkan kepada negara kebangsaan, jadi usaha kita menanamkan jiwa dan semangat nasionalisme adalah dengan cara menanamkan sikap cinta terhadap bangsa dan negara melebihi kepentingan-kepentingan pribadi. Hal ini penting karena tuntutan zaman yang membuat orang semakin bersikap indivualis dan egois serta semangat sektarian yaitu orang yang hanya mengejar kepentingan kelompok dan golongan serta semakin berkembangnya paham neo nasionalisme yaitu paham kesetiaan pada kelompoknya tanpa memperdulikan semangat nasionalisme dan lebih menekankan pada persaudaraan yang bersifat internasionalisme sehingga mereka tidak mengakui saudara sebangsanya apabila mereka tidak sepaham dan sealiran.

Kembali kepada usaha menanamkan rasa dan jiwa nasionalisme ; terutama kapada generasi muda kita lewat pendidikan, ada beberapa hal yang dapat kita lakukan baik sebagai orang tua maupun sebagai guru :

1. Menanamkan kesadaran Pluralis Majesty

Yaitu kesadaran tentang keutamaan dari keberbedaan, kita menyadarkan bahwa perbedaan adalah satu hal yang biasa, bahwa keberbedaan adalah anugrah dari Tuhan kepada kita, bahwa keberbedaan itu indah. Kita mempunyai konsep Bhineka Tunggal Ika; walaupun berbeda kita satu juga. Dengan menanamkan kesadaran tersebut, anak-anak kita, siswa kita, diajarkan bahwa teman-teman mereka yang berbeda dalam banyak banyak hal, baik itu suku, agama dan ras, adalah tetap saudara sebangsa yang harus dicintai , dibela dan dilindungi.

2. Menanamkan rasa empati kepada orang lain

Sejak kecil baik di keluarga dan di sekolah kita mengajarkan rasa empati kepada anak - anak kita, dengan harapan anak-anak kita maupun siswa kita akan mempunyai kepekaan sosial terhadap teman-temannya sehingga kelak diharapkan mempunyai kepekaan sosial terhadap saudara sebangsa dan setanah air.
Menanamkan nilai-nilai nasionalisme.
Almarhum Sophan Sopian sebelum meninggal melontarkan keluhan, kenapa anak-anak kecil begitu hafal lagu-lagu dangdut seperti; Kucing Garong, Cucak Rawa dan sebagainya akan tetapi tidak hafal lagu-lagu nasional. Penting bagi kita menanamkan nilai –nilai sejak dini seperti mengajarkan lagu-lagu nasional, menceritakan dan mempertontonkan cerita kepahlawanan kepada anak kita maupun siswa kita dengan harapan generasi muda kita meniru teladan dari para pahlawan pendiri negara kita dan mempunyai rasa cinta dan bangga terhadap bangsa dan negara.

3. Menanamkan sikap keterbukaan

Salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya bentrokan dan konflik dalam diri bangsa kita adalah belum adanya sikap terbuka. Hal ini menyebabkan sikap saling curiga dan saling menghakimi, merasa bahwa dirinya paling benar sementara yang lain pasti salah. Menanamkan sikap keterbukaan sejak dini, mengajarkan pada generasi muda kita sikap saling memahami dan menerima satu dengan yang lain.

4. Menanamkan nilai-nilai agama

Dengan penanaman nilai-nilai agama sejak dini, diharapkan anak-anak kita, generasi muda kita, mempunyai akhlak mulia sehingga takut untuk melakukan tindak tercela seperti korupsi, mencuri hutan sendiri ,dsb. yang merugikan bangsa dan negara.
Semoga uraian singkat ini mampu memberi refleksi bagi kita semua, khususnya dalam memperintati seratus tahun kebangkitan nasional Indonesia. Dirhagahayu Indonesia, Jayalah Selalu Indonesia !

Artikel ini dimuat di Majalah Kiprah bulan Oktober 2008

Tidak ada komentar: