Selasa, 28 September 2010


Memahami Kematian dan Memaknai Kehidupan

Salah satu pertanyaan terbesar dalam hidup manusia adalah “kemana manusia setelah kematian”? Kematian menjadi sebuah misteri yang selalu dipertanyakan oleh seluruh umat manusia. Akan tetapi, disisi lain kematian merupakan sesuatu yang selalu dihindari dan selalu senantiasa memberikan gambaran tentang satu peristiwa yang menakutkan bagi sebagian orang.

Kematian, baik dalam situasi normal maupun tidak normal, tidak pernah gagal untuk menunjukkan taringnya yang bengis dan siap merobek jaringan kehidupan manusia dengan sewenang-wenang. Kematian benar-benar merampas segala nilai kehidupan yang telah ditata dengan rapi, serta memporak-porandakan semua rencana hidup yang disusun oleh manusia menjadi suatu bangunan yang megah dan indah. Manusia selalu merasa datangnya kematian itu terlalu cepat. Kesempatan untuk menyelesaikan segala rencana yang ada dirampok oleh kematian yang tidak kenal kompromi. Belum puas rasanya mengukir kehidupan ini. Belum sempat rasanya menikmati kehidupan dengan orang-orang yang kita cintai. Kematian segera datang menjemput, tidak pernah sabar menunggu barang semenit atau sedetik pun.

Kematian sering identik dengan tragedi yang membawa banyak kesedihan bagi yang ditinggalkan. Tentu saja kesedihan akan terasa semakin mendalam bila kematian itu menimpa orang-orang terdekat kita, yang kita cintai dan kita butuhkan. Ketika itu yang terjadi, banyak di antara manusia yang tidak sanggup menerima proses kematian itu sebagai konsekuensi logis dari kehidupan. Kematian memunculkan jarak yang tak terukur dan tak terbatas antara yang masih hidup dengan yang telah mati. Meskipun demikian, pada akhirnya semua manusia harus dengan rela menerima datangnya kematian sebagai suatu ketentuan “nasib” yang tak terelakkan.

Fenomena kematian bukanlah hal yang asing di tengah eksistensi manusia. Kendati demikian, hal itu tidak memberikan jawaban apa pun atas pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam diri manusia ketika kematian itu disaksikannya. Sehingga meskipun fenomena kematian itu bukan hal yang asing bagi manusia, namun tetap memunculkan kecemasan dan ketakutan dalam dirinya. Pertanyaan tentang kematian merupakan pertanyaan yang muncul dari kesangsian, kesangsian muncul dari ketidakpastian, ketidakpastian menimbulkan kegelisahan dan pada akhirnya kegelisahan akan membawa manusia kepada kecemasan dan ketakutan

Cerita tentang kematian juga mendapat perhatian dari sebagian besar orang. Film tentang kiamat 2012 yang dirilis tahun 2009 mendapat tanggapan yang luar biasa dan menjadi perhatian sebagian besar umat manusia. Film itu menjadi pusat perhatian sebagian besar umat manusia bukan karena sekadar karena spektakuler dan menggunakan tehknologi canggih, akan tetapi film itu memberi pesan akan datangnya kematian yang akan terjadi sebentar lagi yaitu pada tahun 2012. Film yang mengambarkan peristiwa kiamat yang akan terjadi pada tahun 2012 tepatnya tanggal 22 bulan 12 tahun 2012 didasarkan pada ramalan suku bangsa Maya dari Mexico yang mengatakan bahwa akan ada planet Nibiru yang akan menghancurkan Planet Bumi beserta isinya. Ramalan tersebut menyebabkan ketakutan bagi sebagain orang di seluruh belahan dunia sampai saat ini. 

Kematian telah menjadi bahan diskus sejak berabad-abad yang lalu, Plato mengartikan kematian sebagai pemisahan bagian rohaniah, yaitu jiwa, dari bagian fisik, yaitu badan. Setelah dipisahkan dari tubuh, jiwa dapat bertemu dan bercakap-cakap dengan arwah orang lain yang telah meninggal, dan dibimbing oleh arwah pelindung melalui peralihan dari kehidupan fisik ke dunia selanjutnya. Dia menyebutkan bagaimana beberapa orang mengharapkan dijemput oleh sebuah perahu pada waktu kematian mereka, yang akan membawa mereka mengarungi lautan menuju “pantai seberang”. Lebih lanjut Plato menegaskan bahwa jiwa yang telah dipisahkan dari tubuh pada waktu kematian dapat berpikir dan mempertimbangkan segala sesuatunya dengan lebih jelas dari sebelumnya. Segera setelah kematian kata Plato, jiwa menghadapi “pengadilan” tempat suatu “makhluk” Yang Agung memperlihatkan di hadapannya semua yang telah dilakukannya, apakah itu baik atau buruk, dan memaksa jiwa menghadapinya 
Dengan kata lain, tatkala jiwa sudah sampai kepada alam yang menjadi asal-usulnya, maka kepadanya akan diperlihatkan segala yang telah dia perbuat pada saat berada di dunia materi. Pada saat itu jiwa akan melihat segala yang terhalang baginya—disebabkan oleh terlingkupi jasad di dunia. Jiwa akan sadar terhadap baik dan buruk perilaku yang telah diperbuatnya di dunia karena pengaruh jasad. (Moody, 2001 : 145-147).
 
Sama dengan pendapat plato, agama – agama di dunia mengajarkan bahwa kematian adalah proses seseorang meninggalkan dunia fana ini menuju kepada kehidupan yang kekal atau baka dimana seseorang harus mempertanggung-jawabkan semua yang dilakukan didunia kepada Zat Yang Maha Tinggi yaitu Tuhan. Sang Buddha pernah mengatakan bahwa segala sesuatu yang dilahirkan, yang muncul, yang terbentuk, akan lenyap kembali? Ini merupakan sifat dari semua bentuk yang bersyarat, yakni muncul dan akan lenyap kembali. Dengan menyadari bahwa semua itu akan lenyap kembali, maka muncullah kedamaian dan kemuliaan. 
 
Agama Islam juga mengajarkan hal yang senada dan mengatakan bahwa kematian merupakan sesuatu yang perlu ditakuti karena kematian merupakan jalan kembali kepada Tuhan yang menciptakan manusia. Kematian adalah proses kembali kesisi Allah sehingga orang Islam selalu mengatakan orang yang meninggal dengan kalimat “ berpulang ke Rahmattulah” dan mengucapkan ‘ Innalillahi wainna Ilaihi Raji’un” yang artinya adalah, sesungguhnya kita ini milik Allah dan kepada-Nyalah kita kembali.
 
Agama Kristen juga mengajarkan hal yang sama, seperti yang dikatakan seorang teolog Kristen yaitu Profesor John Hick yang cukup dikenal dengan keyakinannya tentang adanya hidup setelah mati.Kematian menurut pandangan Hick adalah bagian dari proses perkembangan hidup manusia. Kematian bukan akhir kehidupan manusia. Justru dengan kematian, manusia menuju keabadian (immortality) Hidup merupakan perjalanan menuju kesempurnaan. Manusia takkan mencapi kesempurnaan di dunia, karena pasti akan mati. Kesempurnaan didapat manusia setelah kematiannya. Dalam arti, manusia akan mengalami kehidupan yang lain setelah kematiannya di dunia. Hidup di dunia bagi Hick merupakan ajang untuk mematangkan diri. Ia menganjurkan, selama hidup di dunia hendaknya manusia mencari makna hidup secara religius sehingga ketika ajal menjemput, manusia akan tersenyum karena sebentar lagi kesempurnaan akan diraihnya.
Pandangan yang sangat berbeda dikemukakan oleh kaum eksistensialis ( paham yang fokus pada kebebasan manusia sebagai individu) berpendapat, kematian adalah akhir dari segalanya. Ia merupakan batas antara ada dan ketiadaan manusia. Bagi mereka hidup hanyalah menunggu mati. Apa yang diperbuat selama manusia hidup tak berarti apa-apa bagi dirinya setelah mati. Mereka tak mengakui adanya kehidupan setelah kematian. Sartre mengatakan, kehidupan setelah kematian hanyalah omong kosong. Seorang filsuf eksistensialis yang lain, Karl Jaspers (1883-1969) memandang hidup adalah kesia-siaan belaka, tak bermakna sama sekali. Manusia hidup di dunia seperti terlempar dari suatu tempat tanpa ada kekuatan memilih untuk dilahirkan atau tidak.
 
Setelah kita memahami hakekat kematian, pertanyaannya adalah, bagaimana kita memandang kematian sebagai upaya memaknai kehidupan kita? Sebagai seorang yang religius tentunya kita percaya bahwa kematian adalah proses kembali kepada Zat Yang Maha Agung yaitu Tuhan sehingga cara memandang kematian dalam upaya memaknai hidup kita juga dalam konteks religius. 
Sebagai seorang yang beriman harusnya kita memahami bahwa sesungguhnya kematian merupakan hal yang wajar terjadi dalam kehidupan. Setiap yang bernyawa pasti akan mengalami dan merasakan kematian, karena mati telah menjadi pasangan bagi hidup. Kita harus menyadari bahwa kematian bagi manusia sesungguhnya bukan sebagai kehancuran yang tiada bermakna. Kematian justru berfungsi sebagai mediator untuk memahami eksistensi diri kita sebagai manusia yang merupakan mahkluk ciptaan Tuhan. Pengetahuan dan pemahaman tentang kematian yang semacam ini, tidak lagi menyisakan kecemasan dan ketakutan, melainkan memunculkan kerinduan untuk segera bertemu dengan kematian itu. Sebab, kematian akan membawa manusia kepada jatidirinya. Pengetahuan tentang kematian yang disertai dengan sentuhan ruhani, mengubah image kematian yang penuh dengan kegelapan dan ketersesatan menjadi suasana yang dirindukan penuh kesyahduan. Karena alam kematian mengantarkan manusia kepada asal mula kodrat manusia itu sendiri. Filsuf Miguel de Unamuno mengatakan bahwa kesadaran akan kematian membawa manusia dan individu-individu menjadi matang secara spiritual.  
Imam Ghazali menyebutkan, selain mendorong untuk melakukan kebajikan dan menghindari berbuat dosa, mengingat kematian juga membuat manusia tak larut dan terbuai dalam kepentingan dunia, sehingga tak menghalalkan segala cara mengejar harta, pangkat, dan jabatan. Mengingat kematian juga bisa menimbulkan gairah untuk mendekatkan diri pada Allah. Kematian juga merupakan batas bagi manusia untuk menanam kebajikan (di Dunia) dan saat memanennya (di alam Barzah dan Akhirat atau alam baka ). Setelah kematian, manusia tak dapat lagi menanam. Salah satu manfaat mengingat kematian adalah untuk memotivasi diri agar terus-menerus menanam kebajikan sebelum batas itu tiba.
Sekarang, seperti apa upaya yang harus kita lakukan untuk memaknai kehidupan kita sebelum kematian menyongsong kita? Orang Jawa mempunyai filosofis yang bermakna dalam yaitu “ urip mung mampir ngombe” hidup hanya mampir minum yang maksudnya bahwa hidup hanya sementara dan fana sehingga harus kita isi dengan hal-hal yang bermakna dan berguna bagi diri kita maupun sesama. Sehingga akhirnya benar-benar siap untuk menghadapi kematian dengan jiwa yang tenang, dan siap untuk mempertanggungjawabkan apa yang kita lakukan di dunia.


Prijobekti P

 
 



Sabtu, 24 April 2010

Pancasila Antara Ada Dan Tiada
Oleh Prijobekti Prasetijo

Dari 216 koisioner yang penulis sebarkan pada remaja berusia antara 15 sampai 18 tahun ternyata ada 62 anak atau sekitar 28 persen yang menjawab tidak penting terhadap pertanyaan yang saya ajukan yaitu masih pentingkah Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Penulis percaya bahwa hasil angket tersebut, sedikit banyak juga merupakan representasi pendapat masyarakat secara umum terhadap eksistensi Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Ada bebarapa alasan yang mendasari jawaban para remaja tersebut. Empat belas persen dari mereka yang menyatakan bahwa pancasila tidak penting beralasan bahwa mereka mempunyai pedoman hidup sendiri yang dianggap mampu membawa keselamatan di dunia dan akherat. Sementara selebihnya yaitu delapanpuluh enam persen menyatakan bahwa Pancasila dianggap tidak membawa perubahan yang lebih baik pada masyarakat, hal itu terlihat pada perilaku – perilaku yang bertententangan dengan nilai-nilai Pancasila dalam masyarakat kita, seperti konflik-konflik dalam masyarakat yang dilatarbelakangi oleh masalah SARA, kejahatan dan sebagainya serta praktik penyelenggaraan pemerintahan yang juga banyak menyimpang dari nilai-nilai Pancasila seperti maraknya praktik korupsi, kolusi dan nepotisme. Mereka berpendapat bahwa ada tidaknya Pancasila tidak berpengaruh dalam kehidupan bermasyarakat , berbangsa dan bernegara.
Sementara para remaja yang yang menjawab bahwa Pancasila bahwa tetap penting bagi bangsa Indonesia memberikan argumen sebagai berikut, tiga puluh Sembilan persen siswa menyatakan bahwa secara legal formal Pancasila adalah dasar negara yang harus tetap dipertahankan. Sementara enampuluh satu persen menjawab bahwa Pancasila tetap penting dalam kehidupan berbangsa dan negara karena diyakini tetap mampu menuntun masyarakat Indonesia pada tercapainya tujuan negara kita yaitu masyarakat adil dan makmur.
Dari jawaban siswa terhadap kuosioner saya tersebut kita menangkap sebuah ironi, mengapa? Karena nilai-nilai Pancasila yang digali dan dirumuskan dari nilai-nilai luhur bangsa kita oleh The Faunding Fathers yang telah terbukti dan kita yakini keampuhannya dalam mengawal keutuhan NKRI ternyata justru diragukan eskistensinya oleh sebagian generasi muda kita yang justru kita harapkan nantinya mampu menjadi pengawal Pancasila. Apabila kita simpulkan, remaja obyek penelitian saya yang menjawab bahwa secara idiologis dalam arti mengakui bahwa Pancasila merupakan idiologi ideal bagi bangsa Indonesia hanya enam puluh persen. Pertanyaannya adalah mengapa terjadi fenomena seperti tersebut?

Miskinnya Keteladanan Dalam Masyarakat
Salah satu faktor yang menyebabkan menipisnya kepercayaan sebagian generasi muda kita terhadap kekuatan dan peran Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dikarenakan mereka tidak memperoleh dan melihat keteladan dalam masyarakat. Yang mereka saksikan justru adalah praktik – praktik menyimpang yang dilakukan oleh pribadi-pribadi dan lembaga yang sepatutnya menjadi sumber keteladan bagi mereka. Baik itu guru, pemimpin masyarakat dan pemimpin Negara. Praktik korupsi yang marak dan praktik penegakkan hukum yang masih jauh dari nilai-nilai keadilan merupakan fenomena yang mereka lihat dalam kehidupan sehari-hari.
Pancasila hanya sekadar sebagai formalitas
Nilai-nilai Pancasila yang sangat ideal yang seharusnya mampu memberi orientasi dan menjadi koridor bagi sikap dan perilaku seluruh anggota masyarakat kita, termasuk generasi muda kita. Pancasila hanya akan menjadi sekedar nilai yang tak teraplikasikan dalam praktik kehidupan nyata, ketika nilai-nilai Pancasila itu hanya secara formal kita ajarkan dalam praktik pembelajaran tanpa disertai upaya untuk mengaktualisasikan nilai-nilai itu dalam praktik kehidupan nyata. Pembelajaran nilai-nilai Pancasila dalam pelajaran di sekolah menjadi tidak berarti ketika tidak ada upaya untuk menginternalisasikan nilai-nilai Pancasila dalam praktik kehidupan nyata terutama dalam kehidupan bersama di lingkungan sekolah. Sekolah seharusnya bisa menjadi wahana awal bagi generasi muda dalam upaya menginternalisasikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bersama, seperti misalnya nilai-nilai demokrasi, penghargaan terhadap kebinekaragaman dan keberbedaan, penghargaan terhadap HAM dan sebagainya. Dan faktanya, kalau kita mau jujur, pembelajaran kewarganegaraan di sekolah baru sebatas upaya formal mengajarkan nilai-nilai Pancasila. Belum pada upaya untuk menginternalisasikan dan mengaktualisasikan nilai – nilai Pancasila dalam kehidupan bersama. Pancasila hanya sekedar dihafalkan dan diucapkan dalam upacara-upacara bendera setiap hari senin dan peringatan hari-hari nasional.
Adanya elemen masyarakat yang menolak Pancasila
Pancasila nampaknya ditolak oleh beberapa elemen masyarakat yang nampaknya menolak Pancasila sebagai idiologi Negara. Hal ini tentunya juga membawa pengaruh pada pemikiran generasi muda kita. Dicabutnya Pancasila sebagai satu-satunya asas tunggal yang ditetapkan dalam ketetapan MPR nomor XIII/MPR/1998 nampaknya ditanggapi dengan sikap euforia oleh sebagian orang dengan menganggap bahwa Pancasila tidak penting lagi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Melihat fenomena tersebut, nampaknya perlu dilakukan upaya yang lebih sunguh-sungguh untuk menanamkan niali-nilai Pancasila dalam kehidupan bersama dengan cara merevitalisasi nilai-nilai pancasila dalam kehidupan bersama. Ada beberapa upaya yang dapat kita lakukan untuk menginternalisasikan nilai-nilai Pancasila sebagai upaya membangun manusia Indonesia yang Pancasilais:
Menjadikan keluarga sebagai ujung tombak penanaman nilai-nilai Pancasila
Keluarga merupakan wahana utama dan pertama terjadinya sosialisasi pada anak, dengan demikian keluarga memegang peranan penting bagi pembentukan karakter dan mental manusia Indonesia. Dalam konteks menanamkan nilai-nilai Pancasila, keluarga dapat kita gunakan sebagai wahana menanamkan sikap empati, nilai-nilai spritualitas, menghargai dan mencintai sesama dengan tulus serta menghargai persamaan derajat setiap orang. Dengan penanaman nilai-nilai tersebut dalam lingkungan keluarga kita berharap anak-anak kita akan tumbuh menjadi manusia yang mampu memahami dan menjalankan nilai-nilai Pancasila dalan kehidupan berbangsa dan bernegara.
Menanamkan sikap demokrasi di sekolah
Sosialisasi di sekolah merupakan wahana untuk menanamkan kesadaran Plurality of Majesty yaitu kesadaran akan keberbedaan, bahwa berbeda itu indah, bahwa keberbedaan diantara mereka adalah satu hal yang harus diterima dan dihargai. Sekolah juga dapat dimanfaatkan untuk menanamkan kesadaran egaliter yaitu semangat kesetaraan sebagai warga negara. Bahwa semua orang adalah sama dan sejajar tidak ada yang merasa bahwa dia merupakan anggota masyarakat yang istimewa karena latar belakang maupun status sosialnya. Disisi lain, sekolah harusnya juga menjadi wahana untuk mengembangkan rasa tenggang rasa, empati dan simpati serta toleran terhadap teman dan sesama. Sekolah mempunyai tugas mulia untuk menciptakan lingkungan sekolah yang memberi ruang bagi berkembangnya sikap-sikap tersebut di atas.
Perlunya keteladanan dari para pemimpin dan orang tua
Orang tua dan para pemimpin harusnya mampu menjadi teladan yang baik bagi upaya menanamkan nilai-nilai Pancasila, tidak hanya lewat kata-kata tapi lewat tindakan dan kebijakan yang nyata. Pemimpin harus mampu mengayomi dan memperlakukan semua warga masyarakat secara adil sehingga setiap anggota masyarakat merasa nyaman, tentram dan merasa bangga menjadi bagian dari masyarakat, bangsa yang berdasar Pancasila.
Dengan upaya-upaya tersebut, diharapkan generasi muda benar-benar memahami dan mau mempraktikkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan keseharian. Tanpa upaya yang sungguh sungguh dari semua elemen masyarakat, Pancasila hanya akan menjadi lambang yang tanpa makna, ada namun tiada.
Prijobekti Prasetijo P.
Guru SMA Negeri 1 Purworejo
Pancasila Antara Ada Dan Tiada
Oleh Prijobekti Prasetijo

Dari 216 koisioner yang penulis sebarkan pada remaja berusia antara 15 sampai 18 tahun ternyata ada 62 anak atau sekitar 28 persen yang menjawab tidak penting terhadap pertanyaan yang saya ajukan yaitu masih pentingkah Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Penulis percaya bahwa hasil angket tersebut, sedikit banyak juga merupakan representasi pendapat masyarakat secara umum terhadap eksistensi Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Ada bebarapa alasan yang mendasari jawaban para remaja tersebut. Empat belas persen dari mereka yang menyatakan bahwa pancasila tidak penting beralasan bahwa mereka mempunyai pedoman hidup sendiri yang dianggap mampu membawa keselamatan di dunia dan akherat. Sementara selebihnya yaitu delapanpuluh enam persen menyatakan bahwa Pancasila dianggap tidak membawa perubahan yang lebih baik pada masyarakat, hal itu terlihat pada perilaku – perilaku yang bertententangan dengan nilai-nilai Pancasila dalam masyarakat kita, seperti konflik-konflik dalam masyarakat yang dilatarbelakangi oleh masalah SARA, kejahatan dan sebagainya serta praktik penyelenggaraan pemerintahan yang juga banyak menyimpang dari nilai-nilai Pancasila seperti maraknya praktik korupsi, kolusi dan nepotisme. Mereka berpendapat bahwa ada tidaknya Pancasila tidak berpengaruh dalam kehidupan bermasyarakat , berbangsa dan bernegara.
Sementara para remaja yang yang menjawab bahwa Pancasila bahwa tetap penting bagi bangsa Indonesia memberikan argumen sebagai berikut, tiga puluh Sembilan persen siswa menyatakan bahwa secara legal formal Pancasila adalah dasar negara yang harus tetap dipertahankan. Sementara enampuluh satu persen menjawab bahwa Pancasila tetap penting dalam kehidupan berbangsa dan negara karena diyakini tetap mampu menuntun masyarakat Indonesia pada tercapainya tujuan negara kita yaitu masyarakat adil dan makmur.
Dari jawaban siswa terhadap kuosioner saya tersebut kita menangkap sebuah ironi, mengapa? Karena nilai-nilai Pancasila yang digali dan dirumuskan dari nilai-nilai luhur bangsa kita oleh The Faunding Fathers yang telah terbukti dan kita yakini keampuhannya dalam mengawal keutuhan NKRI ternyata justru diragukan eskistensinya oleh sebagian generasi muda kita yang justru kita harapkan nantinya mampu menjadi pengawal Pancasila. Apabila kita simpulkan, remaja obyek penelitian saya yang menjawab bahwa secara idiologis dalam arti mengakui bahwa Pancasila merupakan idiologi ideal bagi bangsa Indonesia hanya enam puluh persen. Pertanyaannya adalah mengapa terjadi fenomena seperti tersebut?

Miskinnya Keteladanan Dalam Masyarakat
Salah satu faktor yang menyebabkan menipisnya kepercayaan sebagian generasi muda kita terhadap kekuatan dan peran Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dikarenakan mereka tidak memperoleh dan melihat keteladan dalam masyarakat. Yang mereka saksikan justru adalah praktik – praktik menyimpang yang dilakukan oleh pribadi-pribadi dan lembaga yang sepatutnya menjadi sumber keteladan bagi mereka. Baik itu guru, pemimpin masyarakat dan pemimpin Negara. Praktik korupsi yang marak dan praktik penegakkan hukum yang masih jauh dari nilai-nilai keadilan merupakan fenomena yang mereka lihat dalam kehidupan sehari-hari.
Pancasila hanya sekadar sebagai formalitas
Nilai-nilai Pancasila yang sangat ideal yang seharusnya mampu memberi orientasi dan menjadi koridor bagi sikap dan perilaku seluruh anggota masyarakat kita, termasuk generasi muda kita. Pancasila hanya akan menjadi sekedar nilai yang tak teraplikasikan dalam praktik kehidupan nyata, ketika nilai-nilai Pancasila itu hanya secara formal kita ajarkan dalam praktik pembelajaran tanpa disertai upaya untuk mengaktualisasikan nilai-nilai itu dalam praktik kehidupan nyata. Pembelajaran nilai-nilai Pancasila dalam pelajaran di sekolah menjadi tidak berarti ketika tidak ada upaya untuk menginternalisasikan nilai-nilai Pancasila dalam praktik kehidupan nyata terutama dalam kehidupan bersama di lingkungan sekolah. Sekolah seharusnya bisa menjadi wahana awal bagi generasi muda dalam upaya menginternalisasikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bersama, seperti misalnya nilai-nilai demokrasi, penghargaan terhadap kebinekaragaman dan keberbedaan, penghargaan terhadap HAM dan sebagainya. Dan faktanya, kalau kita mau jujur, pembelajaran kewarganegaraan di sekolah baru sebatas upaya formal mengajarkan nilai-nilai Pancasila. Belum pada upaya untuk menginternalisasikan dan mengaktualisasikan nilai – nilai Pancasila dalam kehidupan bersama. Pancasila hanya sekedar dihafalkan dan diucapkan dalam upacara-upacara bendera setiap hari senin dan peringatan hari-hari nasional.
Adanya elemen masyarakat yang menolak Pancasila
Pancasila nampaknya ditolak oleh beberapa elemen masyarakat yang nampaknya menolak Pancasila sebagai idiologi Negara. Hal ini tentunya juga membawa pengaruh pada pemikiran generasi muda kita. Dicabutnya Pancasila sebagai satu-satunya asas tunggal yang ditetapkan dalam ketetapan MPR nomor XIII/MPR/1998 nampaknya ditanggapi dengan sikap euforia oleh sebagian orang dengan menganggap bahwa Pancasila tidak penting lagi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Melihat fenomena tersebut, nampaknya perlu dilakukan upaya yang lebih sunguh-sungguh untuk menanamkan niali-nilai Pancasila dalam kehidupan bersama dengan cara merevitalisasi nilai-nilai pancasila dalam kehidupan bersama. Ada beberapa upaya yang dapat kita lakukan untuk menginternalisasikan nilai-nilai Pancasila sebagai upaya membangun manusia Indonesia yang Pancasilais:
Menjadikan keluarga sebagai ujung tombak penanaman nilai-nilai Pancasila
Keluarga merupakan wahana utama dan pertama terjadinya sosialisasi pada anak, dengan demikian keluarga memegang peranan penting bagi pembentukan karakter dan mental manusia Indonesia. Dalam konteks menanamkan nilai-nilai Pancasila, keluarga dapat kita gunakan sebagai wahana menanamkan sikap empati, nilai-nilai spritualitas, menghargai dan mencintai sesama dengan tulus serta menghargai persamaan derajat setiap orang. Dengan penanaman nilai-nilai tersebut dalam lingkungan keluarga kita berharap anak-anak kita akan tumbuh menjadi manusia yang mampu memahami dan menjalankan nilai-nilai Pancasila dalan kehidupan berbangsa dan bernegara.
Menanamkan sikap demokrasi di sekolah
Sosialisasi di sekolah merupakan wahana untuk menanamkan kesadaran Plurality of Majesty yaitu kesadaran akan keberbedaan, bahwa berbeda itu indah, bahwa keberbedaan diantara mereka adalah satu hal yang harus diterima dan dihargai. Sekolah juga dapat dimanfaatkan untuk menanamkan kesadaran egaliter yaitu semangat kesetaraan sebagai warga negara. Bahwa semua orang adalah sama dan sejajar tidak ada yang merasa bahwa dia merupakan anggota masyarakat yang istimewa karena latar belakang maupun status sosialnya. Disisi lain, sekolah harusnya juga menjadi wahana untuk mengembangkan rasa tenggang rasa, empati dan simpati serta toleran terhadap teman dan sesama. Sekolah mempunyai tugas mulia untuk menciptakan lingkungan sekolah yang memberi ruang bagi berkembangnya sikap-sikap tersebut di atas.
Perlunya keteladanan dari para pemimpin dan orang tua
Orang tua dan para pemimpin harusnya mampu menjadi teladan yang baik bagi upaya menanamkan nilai-nilai Pancasila, tidak hanya lewat kata-kata tapi lewat tindakan dan kebijakan yang nyata. Pemimpin harus mampu mengayomi dan memperlakukan semua warga masyarakat secara adil sehingga setiap anggota masyarakat merasa nyaman, tentram dan merasa bangga menjadi bagian dari masyarakat, bangsa yang berdasar Pancasila.
Dengan upaya-upaya tersebut, diharapkan generasi muda benar-benar memahami dan mau mempraktikkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan keseharian. Tanpa upaya yang sungguh sungguh dari semua elemen masyarakat, Pancasila hanya akan menjadi lambang yang tanpa makna, ada namun tiada.
Prijobekti Prijobekti P.
Guru SMA Negeri 1 Purworejo

Senin, 28 September 2009

Ujian di Negeri Mimpi
Oleh Prijobekti Prasetijo

Partai Final Liga Champions antara Manchester United dengan Barcelona terlalu sayang untuk dilewatkan. Sehingga udara dingin yang membalut malam tidak menghalangi niat untuk menyaksikan pertarungan antara dua tim jagoan Eropa tersebut di atas. Akan tetapi badan lelah nampaknya tidak bersedia berkompromi. Ketika Etoo mencetak gol cantik mataku tidak mampu lagi kubuka dan lelaplah aku. 
Tiba-tiba aku telah melayang-layang di atas awan dengan menaiki permadani terbang. Aku menggunakan pakaian seperti pangeran di dalam cerita-cerita negeri dongeng dan beberapa orang mengiringi aku dengan pakaian prajurit penggawal. Mereka juga menaiki permadani terbang seperti aku.
“ Dimana aku?” tanyaku pada mereka.
“ Tuanku sedang melakukan perjalanan ke negeri impian, negeri indah tiada taranya”, jawab seorang prajurit yang mengawal aku.
“ Negeri impian? Negeri manakah itu?”
“ Lihatlah ke bawah tuanku!” kata seorang pengawalku yang lain.
Kulihat ke bawah dan terlihat pemandangan yang luar biasa indah. Sebuah negeri yang elok nan kaya raya. Sawah menghampar subur, pepohonan yang lebat, dan lautan luas yang sungguh mempesona.
“ Sungguh luar biasa!” kataku dengan kagum. “Inikah yang kamu sebut negeri impian itu?” tanyaku.
“ Benar, tuanku. Inilah negeri nan elok yang akan tuan kunjungi”, jawab seorang pengawalku.
Sambil tetap melayang dengan permadani terbang kami meneruskan perjalanan mengelilingi negeri impian tersebut.
“ Lihatlah!” kataku sambil menunjuk ke bawah. “Penduduknya sangat rajin, pekerja keras dan guyup rukun”.
“ Benar, tuanku. Mereka dikenal sebagai pekerja-perkerja keras dan rajin tetapi juga rukun”, jawab salah seorang dari pengawalku.
Kami terus melakukan perjalanan mengelilingi negeri impian. Ketika memasuki kawasan perkotaan kami melihat kerumunan dimana-mana. Anak-anak dan sebagian orang tua kelihatan khusuk dan tenang melakukan kegiatan. 
“ Sedang apa mereka?” Nampaknya mereka begitu khusuk dalam diam mereka.” Tapi raut muka mereka terlihat menyimpan kekhawatiran yang amat dalam”, salah seorang pengawalku bertanya.
“ Mari kita hampiri mereka!” perintahku.
Kami kemudian menghampiri salah satu tempat dimana sekumpulan remaja dan sebagian orang tua sedang khusuk. Kelihatannyanya mereka sedang melakukan kegiatan spiritual. Kami turun dari permadani terbang dan berjalan mendekati salah seorang laki-laki dari komunitas tersebut.
“ Bapak, boleh kami bertanya?” tanyaku kepada orang tersebut
“ Silakan, tuan!” jawabnya  
“ Sedang apa kalian?” Banyak sekali orang berkumpul berdoa tetapi terlihat menyimpan kekhawatiran yang amat dalam”.
 “ Kami sedang memohon pertolongan Tuhan, tuan. Besok murid-murid kami akan melaksanakan ujian sekolah. Kami mendoakan agar semua murid kami lulus dengan hasil memuaskan”.
“ Luar biasa. Bangsa ini sungguh beriman”, jawabku 
 “ Silakan singgah tuan!” kata orang tersebut sambil mengajak kami memasuki sebuah ruangan di sekolah tersebut.
“ Sepertinya bapak adalah pemimpin di sini?” tanyaku kepada laki-laki tersebut.
“ Benar, tuan. Saya kepala sekolah disini”, jawabnya. “Tuan nampaknya baru saja melakukan perjalanan jauh, silakan istirahat di sini barang sebentar”, tambah orang tersebut.
“ Beginilah tuan, setiap tahun kami harus melaksanakan ujian untuk menentukan kelulusan murid-murid kami. Kami harus bekerja keras mempersiapkan murid-murid kami agar mereka dapat lulus semuanya. Segala kemampuan kami kerahkan untuk membantu murid-murid kami”, katanya lagi.
“ Berat sekali beban yang harus bapak emban”, kataku membesarkan hatinya.
 “ Ya, begitulah. Tapi semua adalah bagian dari tugas kami untuk memajukan dunia pendidikan bangsa kami, tuan. Dan untuk itu kami harus lebih banyak berdoa memohon pertolongan dari Tuhan”.
“ Kami dengar tiap tahun standar kelulusan terus ditingkatkan, tuan?” seorang pengawalku bertanya.
“ Benar tuan, tidak hanya standar kelulusan tetapi jumlah mata pelajaran yang diujikan juga ditambah. Bahkan rencananya tahun depan mata pelajaran agama juga akan diujikan dalam ujian nasional. Semua itu kami lakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di negeri kami tuan”, jawab sang kepala sekolah dengan penuh semangat.
“ Luar biasa bangsa bapak ini, keimanan dan spiritual juga dapat diukur dengan angka-angka, ya”, jawabku dengan takjub.
“ Terima kasih tuan atas waktunya, semoga ujian dapat berjalan dengan lancar dan sukses ”, kataku sambil memohon diri.
“ Sama-sama tuan ”, jawab sang kepala sekolah.
Kami meneruskan perjalanan mengelilingi negeri impian yang sunguh menawan. Kami menikmati keindahan alam dan keramahan penduduknya.
Keesokan harinya kami meneruskan perjalanan keliling negeri impian dengan mengendarai permadani terbang.
“ Tuanku, hari ini negeri ini mengadakan ujian, bagaimana kalau kita melihatnya. Mungkin kita bisa belajar dari mereka untuk meningkatkan kualitas pendidikan di negeri kita.”
“ Baiklah, mari kita lihat!”Jawabku. 
Kami kemudian merendahkan permadani terbang kami mendekati sekolah yang kemarin kami kunjungi. Karena kemampuan tembus pandang dan pendengaran jarak jauh yang kami miliki, kami dapat melihat dengan jelas suasana ruang ujian di sekolah tersebut.
“ He, lihat! Betapa terpujinya murid-murid di sini. Mereka sangat santun, sebelum masuk kelas mereka menyalami guru para dan mencium tangan mereka”, kata seorang prajurit pengawalku. 
 “ Mungkin itulah keunggulan pendidikan di sini”, sahut ku.
 Kami lihat di dalam kelas begitu tenang, tapi ternyata itu hanya sesaat. Karena ketika menit-menit semakin berlalu, para murid mulai nervous.Mereka mulai berbicara satu dengan yang lain, sementara guru-guru yang bertugas mengawasi nampaknya bersikap tak acuh.
“ Lho…lho! Mereka ujian atau kerja kelompok? Kok, bekerja sama begitu? Para pengawas pun tidak ambil peduli?” tanyaku dengan heran. Murid-murid saling melongok kertas ujian di depannya. Ternyata walaupun kode soal berbeda, para murid tahu bahwa soalnya tetap sama, hanya nomor soal yang berbeda. Sehingga dengan mudah mereka mencontek lembar soal ujian yang sudah dilingkari jawaban teman di depannya. 
  “ Lihat, Tuanku! ada guru yang juga mengerjakan soal di dalam kelas,” seorang pengawalku berteriak. Kami semua mengamati, dan ternyata benar ada seorang pengawas yang dengan cepat mengerjakan soal ujian dan menuliskan jawaban pada selembar kertas. Padahal konon kabarnya ada aturan yang melarang guru untuk membuka dan mengerjakan soal ujian selama ujian berlangsung.
  Kami kemudian beralih ke ruangan lain, nampaknya ruang panitia ujian. Kami lihat seorang guru juga sedang sibuk mengerjakan soal ujian dan menyalin jawaban soal pada selembar kertas dan memberikan pada guru lain dan beberapa guru kemudian memperbanyak lembar jawaban tersebut dengan cepat pula. Seorang guru kemudian membawa lembar jawaban tersebut keliling kelas. Dengan cepat dan nyaris tidak terlihat guru tersebut melemparkan gulungan kertas kecil kepada seorang muridnya yang duduk di baris paling depan ketika dia memasuki kelas untuk mengedarkan presensi pengawas ujian. Tidak kalah sigap si murid memungut gulungan kertas kecil yang berisi lembar jawaban ujian tersebut dan setelah selesai melemparkan gulungan kertas tersebut pada teman di belakangnya.
  Beberapa lama kemudian kami juga melihat seorang guru perempuan yang tergoboh-goboh masuk sebuah kelas dan berbisik-bisik dengan pengawas.
 “ Amir, dompetmu ketinggalan”, kata guru perempuan tersebut sambil mengangkat sebuah dompet. Murid yang bernama Amir dengan sigap maju ke depan kelas dan menerima dompet dari gurunya tersebut.
 “ Jangan lupa diperiksa surat suratnya lengkap atau tidak”,kata guru tersebut. Dengan cepat Amir memeriksa dompetnya dan menarik gulungan kecil kertas yang berisi jawaban soal ujian dan menyalin dengan cepat. Setelah selesai Amir melemparkan gulungan kecil soal tersebut pada teman disampingnya.
  “ Nampaknya banyak cara dan metode yang digunakan ya”, seorang pengawal berkata mengomentari kecurangan-kecurangan tersebut.
  “ Ya, dari yang konvensional sampai yang mutakhir. Dari metode toilet sampai menggunakan Handphone digunakan untuk melakukan kecurangan”. Jawab pengawal yang lain
  “ Para pengawas itu nampaknya juga tidak menjalankan fungsinya dengan baik, ya?” tanyaku
  “ Sebenarnya mungkin mereka tahu, tuan. Hanya mereka membiarkannya”, jawab seorang pengawal. 
  “ Lho, kok bisa?” tanyaku lagi
  “ Mungkin ada semacam simbiose mutualisme di antara mereka”, jawab seorang pengawalku yang lain.
 “ Maksudnya?” tanyaku
 “ Antara satu sekolah dengan sekolah yang lain mungkin saling sepakat untuk tidak terlalu ketat dalam mengawasi ujian, Tuanku”, jawab prajuritku yang lain.
 “ Jangan – jangan mereka membuat MOU ( Memorandum Under Standing ) gitu,” pengawal yang lain menyaut. Semua ketawa ngakak mendengar komentar tersebut.
“ Atau mungkin mereka juga merasa tertekan seperti halnya murid yang diawasi”, kata seorang pengawal.
“ Kenapa?” tanyaku
“ Dalam beberapa kasus, sikap tegas ternyata justru menyulitkan para pengawas itu sendiri”, jawab pengawal tadi.
 “ Sikap tegas dari pengawas ujian justru dianggab sebagai tindakan yang dianggab mengganggu konsentrasi para siswa dalam mengerjakan soal ujian, sehingga para pengawas tersebut yang justru ditegur atau bahkan diganti”, tambah pengawal tersebut.
Setelah bel tanda ujian selesai berbunyi para murid keluar ruangan dengan wajah cerah dan menyalami para guru. Kami lihat si bapak kepala sekolah dengan hangat menyalami para muridnya dan tersenyum lebar. Nampak puas dan bangga bisa membantu para muridnya.
“ Antara doa dan perbuatan ternyata tidak sejalan”,celetuk seorang pengawalku.
“ Tapi paling tidak niat para guru itu baik”, jawab yang lain
“ Niat baik dengan cara yang tidak benar,” jawab si pengawal lain dengan nada jengkel. 
“ Sudah-sudah! mengapa justru kalian yang jengkel”, kataku menyudahi perdebatan.
“ Gedubrak!” tiba-tiba permadani terbangku menabrak sebuah pohon kelapa di samping sekolah. Dengan cepat aku jatuh ke bawah dan terhempas ke tanah dengan keras.
Aku buka mataku, dan kulihat di depanku layar TV masih menyala. Kulihat jam dinding pukul 04.30 dan samar-samar TV sedang menyiarkan cuplikan final Liga Champion antara MU dengan Barcelona dini hari. Nampak di layar TV Messi menyundul umpan silang di depan gawang dan goooo ...... ool 

 Ternyata aku hanya mimpi. Sementara di bagian bawah layar TV ada teks yang berjalan, tertulis “Mendiknas menyatakan bahwa hanya diketemukan 22 kasus kecurangan pada saat Unas. Turun 100% dari tahun lalu. Syukur Alhamdullilah, Puji Tuhan. Aku ternyata masih di negeriku tercinta, Indonesia. Bukan di negeri mimpi yang penuh kecurangan. 

  Artikel ini dimuat di Koran Mingguan 
  Borobudur Pos Agustus dan September 2009

Senin, 19 Januari 2009



PERKAWINAN

Berpasangan engkau telah diciptakan
Dan selamanya engkau akan berpasangan
Bersamalah dikau tatkala sang maut merengut umurmu
Ya, bahkan bersama pula kalian dalam ingatan sunyi Tuhan,
Namun biarkan ada ruang antara kebersamaan itu,
Tempat angin surga menari-nari di antaramu,
Berkasih-kasihanlah, namun jangan membelungu cinta,
Biarkan cinta itu bergerak senantiasa, bagaikan air hidup,
yang lincah mengalir antara pantai kedua jiwa,
saling isilah piala minumanmu,
tetapi jangan minum dari satu piala
saling bagilah rotimu,
tetapi jangan makan dari pinggan yang sama
bernyanyilah dan menarilah bersama dalam segala sukacita,
hanya biarkanlah masing-masing menghayati ketunggalannya,
tali rebana masing-masing punya hidup sendiri,
walau lagu yang sama sedang mengetarkannya.
Berilah hatimu, namun jangan saling menguasakannya,
Sebab hanya tangan kehidupan yang akan mencakupnya
Tegaklah berjajar namun jangan terlampau dekat;
Bukankah tiang-tiang candi tidak dibangun terlalu rapat
Dan pojon jati serta pohon cemara
Tiada tumbuh dalam bayangan masing-masing

Khalil Gibran, Sang Nabi

Kamis, 25 Desember 2008

Siapa Menabur Angin Akan Menuai Badai

Oleh Prijobekti P.


Berita tentang bencana alam di tanah air kembali marak lagi. Di media masa, baik cetak maupun elektronik hampir setiap hari memuat dan menampilkan terjadinya bencana alam di seluruh Indonesia. Di negara kita, bencana alam nampaknya sudah menjadi agenda tahunan yang selalu datang tanpa dapat diantisipasi terlebih dahulu. Masyarakatpun nampaknya telah menjadi terbiasa dan makhlum dengan adanya bencana yang silih berganti dan memakan banyak korban nyawa tersebut.

Bencana alam yang selalu datang merupakan konsekuensi logis dan hasil tuaian dari pengelolaan sumber daya alam yang tidak benar di negara kita. Terutama pengelolaan sumber daya alam hutan. Seperti kita ketahui, setelah tumbangnya kekuasaan Orde Baru penjarahan hutan terjadi di seluruh tanah air. Sebagian orang nampaknya mengalami euforia dalam menebang dan merampok hutan-hutan di seluruh wilayah Indonesia. Hutan dijarah seakan-akan semua merupakan warisan yang harus segera dihabiskan. Sehingga tidak berlebihan apabila ada pendapat yang mengatakan bahwa kerakusan kita melebihi apa yang dilakukan oleh penjajah Belanda dalam mengeksploitasi kekayaan alam Indonesia. Belandapun tidak setamak dan serakus kita dalam menjarah kekayaan milik bangsa sendiri.

Di kabupaten Purworejo pun euforia penjarahan hutan terjadi. Hutan-hutan jati yang berusia puluhan tahun bahkan ratusan tahun telah habis dijarah oleh manusia-manusia rakus yang tidak bertanggung jawab. Akibatnya, Purworejo pun menjadi wilayah dengan potensi bencana alam yang besar. Bencana alam banjir dan tanah longsor mengancam jiwa kita dan menyebabkan kerugian secara ekonomi apabila tidak mendapat penangganan yang benar.

Awal musim penghujan tahun 2008 ini, di beberapa kawasan Purworejo mempunyai potensi bencana yang sangat besar. Di beberapa daerah pegunungan seperti Kaligesing, Bener, Loano, Kemiri, Bagelen dan Bruno mempunyai potensi bencana tanah longsor yang sangat besar hal itu disebabkan karena tidak adanya hutan-hutan yang cukup mampu menahan air hujan akibat habisnya hutan-hutan jati milik perhutani serta praktik penebangan pohon akhir-akhir ini oleh masyarakat akibat desakan kebutuhan ekonomi. Memang pohon-pohon yang ditebang merupakan milik pribadi, akan tetapi apabila dilakukan secara berlebihan dan tanpa terkontrol akan menyebabkan rusaknya ekosistem dan terjadinya bencana yang merugikan masyarakat.

Potensi bencana alam banjir di wilayah Purworejo juga sangat besar terutama di daerah aliran sungai. Sepengetahuan penulis, di daerah Tunggorono tepatnya sebelah Timur jembatan Tunggorono, sebelah barat sungai Karang Duwur kemudian daerah aliran Sungai Jali seperti di Winong, Sidarum, Wingko, ngombol , Bagelen dan Butuh serta ketika hujan deras air sungai sudah sejajar dengan permukaan tanah sehingga meluber ke areal pertanian, pekarangan dan jalan. Di Kutoarjo, Jembatan yang menghubungkan Semawung Daleman dengan Jatingarang hampir terendam air sungai. Di Desa Briyan tepatnya disekitar SMAK 4 juga sudah tergenang air ketika hujan lebat. Hal tersebut, apabila tidak ditangani dengan benar akan menjadi bencana yang sesungguhnya.

Untuk mencegah terjadinya bencana alam di Purworejo diperlukan upaya yang lebih sungguh-sungguh. Ada beberapa upaya yang mungkin dapat mencegah terjadinya bencana alam di Puworejo, khususnya banjir dan tanah longsor.

Melarang melakukan kegiatan pertanian di daerah aliran sungai

Pemerintah daerah harusnya bersikap tegas terhadap kegiatan pertanian di daerah aliran sungai karena kegiatan tersebut menyebabkan turunnya permukaan tanah sehingga pada musim hujan air meluber dan menjadi potensi terjadinya banjir. Pemanfaatan daerah aliran sungai tersebut bisa kita lihat di daerah Tunggorono, Winong, Karang Duwur dan Bagelen.

Pembatasan yang lebih tegas terhadap penebangan pohon di daerah Hulu sungai dan pegunungan serta daerah aliran sungai

Dinas yang terkait harus bertindak lebih tegas terhadap praktik penebangan pohon di daerah hulu, pegunungan dan daerah aliran sungai, terutama kayu yang penebangan dan penjualannya harus membutuhkan ijin. Aparat bekerja sama dengan desa harus benar-benar memantau dan membatasi penebangan pohon di suatu desa, sehingga jangan hanya karena kepentingan ekonomi semata pohon-pohon ditebang habis. Aparat juga perlu bertindak tegas menangkap dan memenjarakan oknum yang melanggar peraturan dan hukum dalam penebangan pohon yang membutuhkan ijin khusus. Berkaitan hal tersebut penangkapan dan proses hukum yang dilakukan oleh aparat harusnya mendapat apresiasi yang positif dari masyarakat, bukan justru dikritik dan dikecam.

Perlunya kegiatan penghijauan yang berkelanjutan dan terintegrasi

Pemerintah daerah dan dinas-dinas terkait perlu mengadakan gerakan penghijauan secara berkelanjutan dan terintegrasi serta melibatkan semua elemen masyarakat. Akan tetapi satu hal yang perlu diingat, kegiatan itu jangan hanya bersifat formal dan seremonial semata akan tetapi dilakukan secara sungguh-sungguh dan profesional. Artinya, kegiatan penghijauan itu benar-benar dipersiapkan , dikelola dan dipantau serta dievaluasi.

Menanamkan kesadaran memelihara lingkungan sebagai bagian dari masyarakat global.

Pemerintah bekerjasama dengan dinas pendidikan, perlu mengadakan gerakan menanamkan kesadaran memelihara lingkungan. Khususnya terhadap generasi muda lewat lembaga formal yaitu sekolah. Dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi perlu ditanamkan kesadaran mencitai dan memelihara lingkungan. Contohnya, sekolah-sekolah dan perguruan tinggi diikutsertakan dalam kegitan-kegiatan penghijaun yang diprakarsi oleh pemerintah daerah atau dinas-dinas terkait. Dan jika memungkinkan dapat dimasukkan kedalam kurikulum, sebagai muatan lokal. Terlebih lagi, sebagai bagian dari masyarakat global generasi muda khususnya dan masyarakat pada umumnya diajak untuk menyadari bahwa memelihara lingkungan di sekitar kita juga merupakan upaya menjaga lingkungan hidup secara keseluruhan sebagai bagian dari umat manusia secara global.

Kesimpulannya adalah, tanpa penanganan yang benar terhadap potensi bencana di Purworejo akan membawa bencana sesungguhnya. Dan Jangan sampai pepatah yang berbunyi ” Siapa menabur angin akan menuai badai ” terjadi di Purworejo.

Prijobekti Prasetijo, Guru SMA I Purworejo